Loader

Menyulap Sampah Rumah Tangga Agar Bernilai Tambah

Menyulap Sampah Rumah Tangga Agar Bernilai Tambah

Jakarta, 7 November 2020 – Tumpukan sampah di rumah bisa diubah menjadi sesuatu yang memiliki nilai tambah ekonomi. Hal inilah yang dibahas lengkap pada seri kedua webinar series Ekowisata PJJ dengan tema Workshop: Jitu dan Mudah Kelola Sampah Rumah Tangga,Sabtu (07/11). Melalui acara ini, Community Development Center Ikatan Alumni Universitas Indonesia (ILUNI UI) mengajak masyarakat luas untuk ikut serta berpartisipasi melakukan pemilahan dan pengelolaan sampah rumah tangga dengan memberikan tips dan trik mengelola sampah di rumah.

Ketua ILUNI UI Endang Mariani, dalam sambutannyamenyampaikan bahwa sampah rumah tangga menyumbangkan jumlah yang cukup signifikan dalam timbunan sampah di TPS dan TPA. “Data KLHK 2019 mencatat sebanyak 48% dari 64 juta ton timbunan sampah berasal dari rumah tangga. Karena itu, kami hadirkan workshop ini sebagai rangkaian kegiatan edukasi dari ILUNI UI kepada masyarakat tentang bagaimana memilah sampah rumah tangga dan mengelolanya agar bernilai ekonomis. Semoga masyarakat terajak untuk ikut dan aktif mengelola sampah rumah tangga melalui Reduce, Reuse, dan Recycle (3R), sehingga tidak jadi sampah yang dibuang dan mengotori lingkungan, tapi juga ada manfaat ekonomi,” tuturnya.

Salah satu teknik untuk mengelola sampah adalah dengan menggunakan teknik mengompos. Kegiatan ini menjadikan sampah basah seperti sisa makanan menjadi pupuk kompos yang bernilai ekonomis. Kegiatan mengompos dapat mengurangi sampah dari awal sebelum sampah terbentuk.

CEO Sustaination Dwi Sasetyaningtyas, menjelaskan empat hal dalam proses mengompos yaitu mikroba, materi coklat, materi hijau, dan udara. “Material coklat warnanya coklat, kering, bunyinya kriuk. Contohnya ranting, daun kering, kardus, koran, atau serpihan kayu. Sementara, material hijau yaitu semua yang segar seperti bunga, daun, bulu-bulu hewan, sisa sayur dan buah, roti, itu semua material hijau,” jelasnya.

Ada dua metode dalam mengompos, yakni metode dengan oksigen (aerob) dan tanpa oksigen (anaerob). Aerob membutuhkan oksigen atau udara melalui lubang komposter dan pengadukan sesekali, sedangkan anaerob menguraikan sampah tanpa menggunakan udara. Menurut Tyas bagi pemula dianjurkan menggunakan metode aerob karena relatif lebih mudah, hasil dapat dikontrol dengan risiko lebih rendah, serta tidak menimbulkan bau. Ia pun menambahkan bahwa mikroba menjadi kunci kesuksesan dalam kegiatan mengompos.

Selain sampah organik, sampah anorganik seperti sampah plastik juga dapat dipergunakan kembali untuk hal yang bermanfaat dan bernilai tambah. Sampah multilayered plastic yang berasal dari sampah kemasan seperti kemasan kopi instan, kemasan bumbu dapur, dan lain sebagainya merupakan salah satu penyumbang terbesar dalam sampah rumah tangga. Sampah-sampah ini telah dapat diolah kembali menjadi bahan baku bangunan oleh Rebricks Indonesia sejak tahun 2018.

“Rebricks Indonesia mentransformasi sampah plastik sisa menjadi bahan-bahan material bangunan. Untuk itu kami mengumpulkan sampah dari masyarakat melalui komunitas. Masyarakat luas juga dapat berpartisipasi dengan memilah sampah rumah tangganya terlebih dahulu. Sampah plastik tidak harus bersih, tapi harus kering. Jadi, kalau masih ada serbuk-serbuk di dalam kemasan, tidak perlu dicuci. Untuk plastik minyak, bisa dilap supaya kering. Setelah itu dikirim ke drop point kita di Setiabudi, Ciputat, dan Tangerang Selatan ,” ungkap Novita Tan, Co-Founder Rebricks Indonesia.

Lebih jauh, ia membeberkan proses pembuatan Rebricks Pavers yangmenggunakan green method di setiap pengolahannya, sehingga tidak menghasilkan polusi. “Kita pakai metode shredding yaitu dicacah lalu dicampurkan formula yang telah dibuat. Kemudian, dibentuk (dimolding) menjadi batu bata,” paparnya. Kedepan, Rebricks Indonesia memiliki visi menjadi bagian dari sirkular ekonomi dan memberi nilai tambah dengan memberikan pembayaran untuk sampah yang dikumpulkan.


Sementara itu, aktivis lingkungan hidup Ova Candra Dewi menekankan pentingnya mengolah sampah. Tak hanya baik bagi lingkungan dan bernilai ekonomis, kegiatan tersebut juga baik bagi kondisi psikis keluarga. Ia megingatkan bahwa setelah menciptakan suatu produk yang dikonsumsi, harus diketahui kemana produk tersebut berakhir. Selain itu, Ova juga menganjurkan untuk menghindari pemborosan makanan agar tak memproduksi lebih banyak sampah.

“Sampah itu impact nya sangat diverse, jadi tidak ada alasan lagi bagi kita untuk tidak memilah sampah. Kebutuhan lahan semakin banyak, sehingga berkompetisi antara TPA dan lahan tinggal. Oleh karena itu, diarahkan sampah yang dibawa ke TPA sedikit saja dengan kita lebih mengutamakan pengelolaan sampahnya,” tutup Ova. (*)

No Comments

Post A Comment

Whatsapp
1
Apakah anda butuh bantuan?
Hallo,
Apa yang dapat kami bantu?