Loader

ILUNI UI Nilai Mahasiswa Berperan Penting dalam Revitalisasi Nasionalisme

ILUNI UI Nilai Mahasiswa Berperan Penting dalam Revitalisasi Nasionalisme

Jakarta, 21 Agustus 2021 – Ketua Umum Ikatan Alumni Universitas Indonesia (ILUNI UI) Andre Rahadian menilai mahasiswa memiliki peranan penting dalam revitalisasi konsep nasionalisme. Apalagi pandemi dan revolusi industri 4.0 dalam segala aspek telah mengubah konsep nasionalisme.

“Teman-teman mahasiswa sebagai warganet merupakan dasar dan modal besar bangsa. Kalau di 2040-2045 Indonesia jadi negara berpenghasilan tinggi dan negara yang maju, jangan sampai nilai-nilai kebangsaan dan nasionalisme berubah ke arah yang salah,” kata Andre dalam sambutannya pada Webinar bertajuk “Seminar Daring Kebangsaan BEM UI 2021 X ILUNI UI: Mahasiswa, Pandemi, dan Revitalisasi Nasionalisme Kita”, kerja sama BEM UI dan ILUNI UI.

Andre menjelaskan, pandemi telah mempercepat proses beralihnya sosialisasi, belajar, dan bekerja. Batas-batas antar negara pun semakin blur, sehingga memungkinkan orang berinteraksi tanpa batas. Situasi ini akan membuka peluang masuknya nilai-nilai dan budaya asing dengan lebih mudah. 

“Oleh karena itu, ILUNI UI menganggap ini hal yang penting dan ajakan kolaborasi BEM UI merupakan suatu kehormatan bagi ILUNI UI. Mudah-mudahan kita bisa mendefinisikan kembali nilai-nilai nasionalisme kita,” ujarnya.

Sementara itu Marsekal TNI-AU Hadi Tjahjanto mengatakan, Indonesia kini menghadapi tantangan internal dan eksternal bagi nasionalisme bangsa. Indonesia merupakan bangsa majemuk yang akibatnya berpotensi menghadapi ancaman perpecahan. Dia berpendapat, kecenderungan mengotak-ngotakkan golongan atas nama kepentingan demokrasi sebagai salah satu yang dapat memperuncing perbedaan dan menihilkan perjuangan pahlawan untuk mempersatukan bangsa.

Selain tantangan internal, globalisasi menjadi ancaman eksternal yang akan mengancam nilai-nilai kearifan lokal berbasis tradisional. Dia pun menekankan pentingnya kesadaran kolektif bangsa sebagai negara kesatuan berdasarkan Pancasila seperti pada Pembukaan UUD 45. Hal ini yang mempertahankan dan mengembangkan nilai-nilai luhur bangsa.

“Butuh komitmen kuat seluruh anak bangsa, termasuk para mahasiswa sebagai pemimpin bangsa di masa depan,” tuturnya.

Ketua Almamater Center ILUNI UI M. Try Sutrisno Gaus memandang nasionalisme harus dilihat dari pendekatan substansif. Nasionalisme jangan dilihat secara sempit dan kontradiktif dengan tujuannya. “Jangan sampai nasionalisme terjebak dalam tataran jargon dan narasi. Padahal nasionalisme sangat dibutuhkan di tataran implementasi,” tegas Gaus.

Gaus juga menekankan pentingnya mahasiswa untuk berkontribusi bagi masyarakat. Menurutnya, kontribusi sebagai mahasiswa dan alumni UI sangat dinantikan oleh masyarakat. Kontribusi ini juga menjadi implementasi atas nilai-nilai nasionalisme pada negara yang tengah dilanda pandemi.

“Selain jadi mahasiswa, di kampus ada yang jadi aktivis BEM, pengurus lembaga kemahasiswaan, asdos, asisten lab, dan lain-lain. Semua punya potensi masing-masing yang patut disyukuri agar potensi tersebut dapat dikontribusikan ke masyarakat,” kata dia.

Selain itu, Gaus mengingatkan sebagai agen perubahan yang memiliki ilmu pengetahuan, mahasiswa harus bersikap adil. Tak banyak warga negara Indonesia yang memiliki kesempatan sebagai mahasiswa. Untuk itu, mahasiswa diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam ilmu pengetahuan. Selain ilmu pengetahuan, mahasiswa juga bisa berkontribusi melalui jaringan yang dimiliki sebagai mahasiswa, aktivis, maupun entrepreneur mahasiswa.

“Mari teman-teman mahasiswa dan alumni UI, kita tumbuhkan dan implementasikan nilai-nilai nasionalisme kita dengan mengoptimalkan semua potensi yang kita miliki. Adillah dengan diri kita dan masyarakat di sekitar dengan karya dan kerja nyata,” ajaknya.

Sementara itu, menurut Sejarawan FIB UI Dr. Anhar Gonggong, nasionalisme Indonesia belum selesai. Dia juga mengingatkan agar bangsa Indonesia jangan hanya bangga karena telah merdeka. Namun, lebih penting adalah untuk tetap memelihara dan menyadari berbagai tantangan berarti yang tengah dihadapi seperti misalnya pandemi COVID-19 yang terjadi saat ini. Berkaitan dengan pandemi, Anhar mengatakan peranan pemuda dan mahasiswa menjadi sangat penting.

“Yang utama harus diberitahu kepada masyarakat yang sebagian besar belum berpendidikan adalah apa arti kesehatan, apa arti kita berhadapan dengan pandemi. Sehingga kita dapat mengatakan kepada mereka bahwa jika kita tidak bisa menyelesaikan pandemi, maka kita akan menghadapi masa depan yang suram,” jelasnya.

Dia juga meminta para politikus untuk sadar betul dalam memahami Pancasila. Pancasila bukan omongan tapi harus diwujudkan. “Para politikus harus melaksanakan makna Pancasila, sehingga apa yang kita harapkan dari negara berpancasila akan dinikmati seluruh bangsa. Di situ makna kebangsaan merdeka kita,” tutupnya. (*)

No Comments

Post A Comment

Whatsapp
1
Apakah anda butuh bantuan?
Hallo,
Apa yang dapat kami bantu?