Categories
Berita Terbitan Utama

Personal Branding, Strategi Untuk Fresh Graduate Berhasil di Dunia Kerja

Jakarta, 20 Februari 2021 – Pencarian kerja menjadi sebuah kompetisi yang tak terelakkan bagi mereka yang baru lulus kuliah (fresh graduate). Merekatak hanya bersaing dengan sesama rekan yang belum berpengalaman kerja namun juga dengan pekerja yang sudah memiliki pengalaman. Dibutuhkan strategi jitu bagi fresh graduate untuk dapat menonjol dan menunjukan kompetensi yang dimiliki melalui Personal Branding yang tepat. Strategi inilah yang coba dibagikan oleh Tim Alumni Mentorship, yang bernaung di bawah Almamater Center ILUNI UI (Ikatan Alumni Universitas Indonesia), melalui acara online training yang mengangkat bertajuk “Building Personal Branding for Fresh Graduates”. Training yang diadakan pada Sabtu, 20 Februari 2021 ini merupakan bagian dari program Future Star Corps (FSC) 2021.

Apa itu personal branding? Istilahini mungkin masih terdengar asing bagi para fresh graduates. Menurut Senior HR Consultant, Career & Personal Development Expert, Tuti Indrawati, yang menjadi pemateri dalam online training tersebut, personal branding adalah sebuah konsep baru dalam dunia Marketing, terkait dengan strategi seseorang untuk mempromosikan dirinya, kekuatan atau pun karakter pribadi yang menonjol dari dirinya. Konsep inilah yang diangkat dalam tranining yang merupakan hasil kerjasama antara Almamater Center Ikatan Alumni Universitas Indonesia (ILUNI UI) dengan Direktorat Pengembangan Karier dan Hubungan Alumni UI (DPKHA UI dan Komunitas Coach MCC.

Tuti yang juga Alumni Fakultas Psikologi UI menjelaskantigahal pentingdalam membangun brand diri tersebut. “Personal branding adalah memahami apa yang sejatinya unik tentang diri dan menggunakan keunikan tersebut untuk membedakannya dari orang lain serta membimbing diri dalam keputusan karir. Dalam membangun personal branding perlu untuk mengenali apa yang akan ditonjolkan sebagai materi promosi diri, lalu mengidentifikasi karakter, minat, nilai-nilai pribadi, dan keterampilan yang kemudian dipadukan dalam kemasan yang menarik,” paparnya.

Lebih lanjut Tuti menjelaskan bahwa membangun personal branding harus didukung dengan pernyataan pencapaian kesuksesan. Hal ini dapat dan perlu ditampilkan, misalnya, dalam resume dan pada saat wawancara. Untuk dapat menyampaikan cerita ringkas tentang capaian sukses tersebut, menurutnya perlu adanya identifikasi pencapaian yang dapat dilakukan melalui metode SOAR. Metode ini digunakan dengan menggali empat hal dalam sebuah kisah sukses yang telah dicapai, yaitu Situation (situasi), Obstacles (hambatan), Action (tindakan), dan Results (hasil).

Setelah mengupas seputar membangun personal branding yang baik, pada sesi kedua pelatihan virtual ini juga dipaparkan panduan dalam membuat resume atau CV (curriculum vitae) yang ‘menjual’ serta bagaimana menyampaikan brand diri dalam sebuah wawancara kerja. Dipandu oleh Host Peter Samuel Oloi, seorang Performance Management Specialist, dan Deasy Meutia Amrin, seorang Psikolog, sebagai Co-Host, pelatihan ini mengajak fresh graduates untuk mempersiapkan diri agar dapat unggul dalam memasuki dunia kerja professional.

Sementara itu, Ketua Almamater Center M. Try Sutrisno Gaus menyebut, Program Future Star Crops merupakan upaya ILUNI UI untuk membantu para mahasiswa dan alumni muda untuk mempersiapkan diri menghadapi kehidupan paska kampus. Program Future Star Corps diharapkan dapat menjadi jembatan dalam mempertemukan para alumni UI potensial dengan para mahasiswa dan alumni mudanya dalam menyiapkan SDM unggul untuk Indonesia maju. ”Untuk itu, kami telah menyiapkan rangkaian kelas coaching, seminar, dan training yang mengundang praktisi karier dan profesional dari para alumni UI, juga bekerja sama dengan komunitas dan lembaga,” ujar Gaus.

Selain training, Program Future Star Corps juga memberikan kegiatan Group Coaching berkolaborasi dengan komunitas Coach MCC. Dalam kegiatan ini, peserta mendapat kesempatan untuk berdialog dan mengeksplorasi diri lebih mendalam dengan bimbingan Certified Professional Coach, sehingga dapat lebih memahami materi yang disampaikan. Kesuksesan acara ini tidak lepas dari peran Ivan Rahadian, anggota tim Alumni Mentorship, yang mengawal sebagai Koordinator Acara.

Tentang Program Future Star Corps (FSC) 2021

Future Star Corps adalah program spesial yang diselenggarakan oleh ILUNI UI (Ikatan Alumni Universitas Indonesia) melalui Alumni Mentorship Almamater Center. Selain training, rangkaian kegiatan dalam program FSC juga menyelenggarakan kegiatan coaching secara berseri dengan dibimbing oleh tim Certified Professional Coach, serta seminar karir bertajuk “Life After Campus Seminar” yang menampilkan tokoh-tokoh masyarakat atau nasional yang juga alumni UI. Semuanya ditujukan untuk membantu menyiapkan rekan-rekan fresh graduate agar dapat lebih percaya diri dan adaptif, sehingga lebih mantab dan untuk berperan dalam “dunia nyata”, termasuk dunia profesional, setelah lulus kuliah. Jika tahun sebelumnya program ini lebih banyak ditujukan khusus untuk kalangan Universitas Indonesia, tahun ini FSC juga menyelenggarakan acara training, group coaching dan seminar karir yang dibuka untuk umum. Program ini  

Informasi selengkapnya: Devi Irma Safitri +62 813 8044 9686 (Sekretariat ILUNI UI)

Categories
Berita Terbitan

Menyulap Sampah Rumah Tangga Agar Bernilai Tambah

Jakarta, 7 November 2020 – Tumpukan sampah di rumah bisa diubah menjadi sesuatu yang memiliki nilai tambah ekonomi. Hal inilah yang dibahas lengkap pada seri kedua webinar series Ekowisata PJJ dengan tema Workshop: Jitu dan Mudah Kelola Sampah Rumah Tangga,Sabtu (07/11). Melalui acara ini, Community Development Center Ikatan Alumni Universitas Indonesia (ILUNI UI) mengajak masyarakat luas untuk ikut serta berpartisipasi melakukan pemilahan dan pengelolaan sampah rumah tangga dengan memberikan tips dan trik mengelola sampah di rumah.

Ketua ILUNI UI Endang Mariani, dalam sambutannyamenyampaikan bahwa sampah rumah tangga menyumbangkan jumlah yang cukup signifikan dalam timbunan sampah di TPS dan TPA. “Data KLHK 2019 mencatat sebanyak 48% dari 64 juta ton timbunan sampah berasal dari rumah tangga. Karena itu, kami hadirkan workshop ini sebagai rangkaian kegiatan edukasi dari ILUNI UI kepada masyarakat tentang bagaimana memilah sampah rumah tangga dan mengelolanya agar bernilai ekonomis. Semoga masyarakat terajak untuk ikut dan aktif mengelola sampah rumah tangga melalui Reduce, Reuse, dan Recycle (3R), sehingga tidak jadi sampah yang dibuang dan mengotori lingkungan, tapi juga ada manfaat ekonomi,” tuturnya.

Salah satu teknik untuk mengelola sampah adalah dengan menggunakan teknik mengompos. Kegiatan ini menjadikan sampah basah seperti sisa makanan menjadi pupuk kompos yang bernilai ekonomis. Kegiatan mengompos dapat mengurangi sampah dari awal sebelum sampah terbentuk.

CEO Sustaination Dwi Sasetyaningtyas, menjelaskan empat hal dalam proses mengompos yaitu mikroba, materi coklat, materi hijau, dan udara. “Material coklat warnanya coklat, kering, bunyinya kriuk. Contohnya ranting, daun kering, kardus, koran, atau serpihan kayu. Sementara, material hijau yaitu semua yang segar seperti bunga, daun, bulu-bulu hewan, sisa sayur dan buah, roti, itu semua material hijau,” jelasnya.

Ada dua metode dalam mengompos, yakni metode dengan oksigen (aerob) dan tanpa oksigen (anaerob). Aerob membutuhkan oksigen atau udara melalui lubang komposter dan pengadukan sesekali, sedangkan anaerob menguraikan sampah tanpa menggunakan udara. Menurut Tyas bagi pemula dianjurkan menggunakan metode aerob karena relatif lebih mudah, hasil dapat dikontrol dengan risiko lebih rendah, serta tidak menimbulkan bau. Ia pun menambahkan bahwa mikroba menjadi kunci kesuksesan dalam kegiatan mengompos.

Selain sampah organik, sampah anorganik seperti sampah plastik juga dapat dipergunakan kembali untuk hal yang bermanfaat dan bernilai tambah. Sampah multilayered plastic yang berasal dari sampah kemasan seperti kemasan kopi instan, kemasan bumbu dapur, dan lain sebagainya merupakan salah satu penyumbang terbesar dalam sampah rumah tangga. Sampah-sampah ini telah dapat diolah kembali menjadi bahan baku bangunan oleh Rebricks Indonesia sejak tahun 2018.

“Rebricks Indonesia mentransformasi sampah plastik sisa menjadi bahan-bahan material bangunan. Untuk itu kami mengumpulkan sampah dari masyarakat melalui komunitas. Masyarakat luas juga dapat berpartisipasi dengan memilah sampah rumah tangganya terlebih dahulu. Sampah plastik tidak harus bersih, tapi harus kering. Jadi, kalau masih ada serbuk-serbuk di dalam kemasan, tidak perlu dicuci. Untuk plastik minyak, bisa dilap supaya kering. Setelah itu dikirim ke drop point kita di Setiabudi, Ciputat, dan Tangerang Selatan ,” ungkap Novita Tan, Co-Founder Rebricks Indonesia.

Lebih jauh, ia membeberkan proses pembuatan Rebricks Pavers yangmenggunakan green method di setiap pengolahannya, sehingga tidak menghasilkan polusi. “Kita pakai metode shredding yaitu dicacah lalu dicampurkan formula yang telah dibuat. Kemudian, dibentuk (dimolding) menjadi batu bata,” paparnya. Kedepan, Rebricks Indonesia memiliki visi menjadi bagian dari sirkular ekonomi dan memberi nilai tambah dengan memberikan pembayaran untuk sampah yang dikumpulkan.


Sementara itu, aktivis lingkungan hidup Ova Candra Dewi menekankan pentingnya mengolah sampah. Tak hanya baik bagi lingkungan dan bernilai ekonomis, kegiatan tersebut juga baik bagi kondisi psikis keluarga. Ia megingatkan bahwa setelah menciptakan suatu produk yang dikonsumsi, harus diketahui kemana produk tersebut berakhir. Selain itu, Ova juga menganjurkan untuk menghindari pemborosan makanan agar tak memproduksi lebih banyak sampah.

“Sampah itu impact nya sangat diverse, jadi tidak ada alasan lagi bagi kita untuk tidak memilah sampah. Kebutuhan lahan semakin banyak, sehingga berkompetisi antara TPA dan lahan tinggal. Oleh karena itu, diarahkan sampah yang dibawa ke TPA sedikit saja dengan kita lebih mengutamakan pengelolaan sampahnya,” tutup Ova. (*)