Categories
Berita Kegiatan

Epidemiolog UI: Varian Baru Meledak karena Surveilans Berjalan Kurang Baik

Jakarta, 29 November 2021 – Epidemiolog UI Dr. dr. Tri Yunis Miko Wahyono, M.Sc. mengungkapkan, varian baru COVID-19 meledak di Indonesia karena surveilans berjalan kurang baik.  Berdasarkan laporannya, perkembangan kasus di Indonesia pada Januari mencapai 18 ribu, pada Juli kasus tertinggi mencapai 54 ribu, sedangkan kasus kumulatif hari ini 4.255.000 dengan kasus harian 264.

“Kalau lihat laporannya, sebenarnya surveilans kita itu antara baik dan tidak.  Menurut saya kurang baik dalam melaporkan kasus hariannya dengan benar,” papar dr. Miko dalam sesi diskusi daring Forum Diskusi Salemba dengan tema “Kesiapan Indonesia dalam Mencegah Potensi Gelombang Ketiga COVID-19”, Senin (29/11)

Berdasarkan pemaparan dr. Miko, kasus kumulatif Indonesia menempati posisi 14 di seluruh dunia dengan 4 juta kasus. Sedangkan angka kematian berada di posisi 7 secara global. Hal ini menunjukkan ada ketimpangan antara kasus aktif dan angka kematian. Selanjutnya, menurut dr. Miko ada bias reporting dalam laporan angka kasus di Indonesia karena surveilors dan survei selalu memberikan angka yang berbeda. Di Bali ada 54 kali lebih besar, sedangkan di Jawa Barat dinyatakan ada perbedaan data sebesar 5.000 kasus yang tidak dilaporkan, sementara di Jawa Tengah ada 6.000 kasus. “Hati-hati terhadap bias reporting ini. Indonesia bisa menyimpannya tapi bahaya besar akan mengancam,” kata dia.

Ketua Umum ILUNI UI Andre Rahadian dalam sambutannya menilai pemerintah telah berupaya untuk mencegah berkembangnya varian Omicron di Indonesia. Meski begitu, Andre meminta agar upaya ini terus dijaga terutama dalam menghadapi Nataru. Apalagi setelah ada prediksi dari Satgas adanya peningkatan kasus akibat varian baru.

“Ada yang bilang varian Omicron ini lebih lemah dari varian sebelumnya, tapi kita juga tidak bisa mengambil risiko. Meski begitu, kita juga tidak bisa mengesampingkan kebutuhan masyarakat bersosialisasi dan melaksanakan kegiatan ekonomi,” ucap Andre.

Juru Bicara Satuan Tugas Penanganan (Satgas) COVID-19 Prof. drh. Wiku Bakti Bawono Adisasmito, M.Sc., Ph.D. menyampaikan, vaksinasi, protokol kesehatan, dan menjaga mobilitas penting dalam menghadapi potensi gelombang yang akan datang, Pemerintah pun harus meningkatkan kemampuan daerah dengan 5S dan 1 T yakni strategi, struktur, sistem, skill, speed, dan target. “Salah satu contoh adanya isolasi terpusat. Kalau tidak ada isolasi terpusat pada saat lonjakan kedua kemarin, pasti korbannya jauh lebih banyak lagi karena antrean sudah sampai di lapangan parkir berbagai rumah sakit,” jelas Prof. Wiku.

Lebih lanjut, Prof. Wiku memaparkan, Indonesia punya kebijakan berlapis. Salah satunya, dengan adanya skrining dan karantina untuk pelaku perjalanan internasional untuk mencegah masuknya varian baru ke Indonesia. Prof. Wiku juga menjelaskan, dalam pelaksanaan PPKM level 3 sesuai Inmendagri No.62 Tahun 2021 dipastikan fasilitas publik betul-betul terkendali, serta tidak menimbulkan mobilitas berlebihan. “Untuk itu, kolaborasi pentahelix betul-betul dilakukan. Seluruh elemen bekerja, tidak hanya pemerintah dan nakes,” tambah dia.

Inisiator  PandemicTalks  Mutiara Anissa  juga mengingatkan,  saat ini adalah waktu yang sangat krusial. Minggu-minggu ke depan menurutnya jadi penentu apakah varian baru akan masuk dan apakah ada potensi gelombang ketiga terbentuk. Bukan hanya karena libur Nataru, tapi juga adanya varian Omicron. Dia juga mengingatkan agar pemerintah dan masyarakat jangan jumawa meski sudah mendapatkan vaksinasi karena itu bukan satu-satunya yang mencegah penyebaran COVID-19.  Menurutnya, tracing di Indonesia sangat perlu digenjot dan diperbaiki. ”PandemicTalks akan menoba mengupdate setiap harinya tentang varian Omnicron. Sekarang seluruh dunia sedang meneliti dan melacak dengan baik varian tersebut, maka informasinya cepat berganti bisa diralat, dihapus, dan sebagainya,” tutur dia.

Pembatasan perjalanan dari dan keluar negeri, menurutnya, bisa jadi first line of defense. Pembatasan ini juga perlu didukung surveilans genomic sebagai satu-satunya cara menemukan varian Omnicron.  Surveilans ini juga harus ditingkatkan dengan melakukan surveilans dalam negeri untuk melihat transimisi lokal secara acak. Masyarakat juga perlu untuk selalu diingatkan untuk menjaga protokol kesehatan. Selain itu, Mutiara juga mendukung adanya pembatasan sosial berupa PPKM level 3.

“Tidak hanya memberi batasan, paling tidak secara psikologis masyarakat jadi sadar bahwa tidak boleh terlalu euforia. Salah satu poin edukasi yang perlu diingatkan ke publik adalah COVID-19 itu penyakit komunal di mana perilaku kita masing-masing memiliki pengaruh ke komunitas,” tegas Mutiara. 

Dalam mengantisipasi adanya ancaman gelombang ketiga COVID-19, Ketua Policy Center M. Jibriel Avessina turut mengingatkan agar masyarakat memantau update dan strategi antisipasi dari pemerintah. Jibriel juga menekankan pentingnya best case dan worst case dalam menghadapi varian baru Omnicron dari pemerintah. “Tentu saja kita berharap pada kegiatan ke depan, ada proses-prosesnya sehingga perlindungan kesehatan dan gerak ekonomi bisa berjalan seimbang. Tentu ada perbedaan dari kondisi lalu sebelum vaksinasi, sekarang sudah ada. tapi juga ada hal-hal yang harus dijaga bersama,” ungkapnya. 

Di sisi lain, Ekonom UI sekaligus Ketua ILUNI UI Fithra Faisal Hastiadi mengatakan, secara ekonomi, kesiapan Indonesia dipandang cukup solid dalam konteks kesiapan menghadapi ancaman gelombang ketiga.  Meski begitu, saat ini masyarakat dinilai dalam kondisi tertekan. Salah satunya karena adanya pembatasan sosial yang menyebabkan tekanan ekonomi.

Akan tetapi, menurut Fithra masyarakat masih lebih optimis melihat ekonomi ke depan. Saat ini COVID-19 dipandang bukan jadi faktor yang menakutkan bagi masyarakat. Walaupun demikian, Fithra juga mengingatkan agar jangan sampai optimisme ini mengintai bahaya kesehatan. “Harapannya ketika pemerintah melakukan prioritas-prioritas bagaimana faktor kesehatan dipulihkan, vaksinasi didorong, diseminasi memadai terhadap bahaya COVID-19 bisa jadi faktor pendorong ekonomi ke depan,” jelasnya. (*)

Categories
Berita Kegiatan

4.500 Pelari Siap Ramaikan BNI-UI Half Marathon 2021

Jakarta, 18 November 2021 – Lebih dari 4.500 orang peserta telah siap berlari meramaikan BNI-UI Half Marathon 2021 yang akan digelar 20 November 2021 – 5 Desember 2021 secara virtual. Para peserta yang telah mendaftar berasal dari para alumni UI, komunitas lari, dan masyarakat umum.

Meskipun masih digelar virtual, BNI-UI Half Marathon 2021 yang sudah memasuki tahun keempat penyelenggaraan ini tak sepi peminat. Hal ini mengingat masyarakat semakin sadar akan pentingnya gaya hidup sehat agar tetap menjaga imun tubuh tetap kuat selama pandemi.

Ketua Umum ILUNI UI Andre Rahadian dalam konferensi pers BNI-UI Half Marathon 2021 (BNI-UIHM) di Jakarta, 18/11 mengatakan kegiatan lari tahunan ini hadir sebagai sebuah gerakan untuk mempromosikan gaya hidup sehat, menghubungkan sesama pelari semasa pandemi, serta mendorong Indonesia untuk kembali bangkit. “Pada masa pandemi ini, kita tetap perlu menjaga kesehatan dan saling terhubung dengan satu dan yang lainnya, utamanya para pelari. BNI-UIHM tahun ini hadir untuk mengakomodir kebutuhan tersebut,” jelasnya.

Direktur Kelembagaan BNI Sis Apik Wijayanto menyampaikan kegiatan lari tahunan ini adalah sebuah gerakan untuk mempromosikan gaya hidup sehat, menghubungkan sesama pelari semasa pandemi, serta mendorong Indonesia untuk kembali bangkit.

“Ajang ini pun menjadi momentum perseroan untuk pembuktian dukungan BNI terhadap sektor pendidikan nasional, yang mana BNI telah berada di kampus-kampus di Indonesia ini sejak tahun 1960-an sehingga sering disebut juga sebagai Bank Kampus,” sebutnya. 

Sis Apik menuturkan BNI banyak bekerjasama dengan UI dan ILUNI UI wujudkan Campus Financial Ecosystem antara lain melalui  Penerbitan Smartcard bagi anggota ILUNI UI, Penerbitan Kartu Kredit UI Card, Produk Reksadana BNI AM Makara Investasi untuk Endowment Fund UI, Program UI Connect sebagai platform yang menghubungkan antar alumni UI di Indonesia maupun di luar negeri. “Salah satu tujuan dari BNI dan UI dalam mengadakan kegiatan BNI UI Half Marathon ini adalah untuk menggalang endowment fund atau dana abadi yang produknya telah dikerjasamakan oleh BNI bersama UI dengan nama Reksadana BNI AM Makara Investasi yang telah dikerjasamakan sejak tahun 2016” tuturnya.

Sis Apik juga menyampaikan animo pelari BNI UI Half Marathon tetap tinggi pada  tahun ini, meski penyelenggaraannya dilakukan secara virtual. Ada sekitar kurang lebih 4.500 orang yang sudah registrasi sampai dengan saat ini yang berasal dari alumni UI, komunitas lari dan masyarakat umum.

“Tentunya kami berharap acara berlangsung tetap meriah. Kami juga menyisipkan berbagai program entertainment menarik untuk memberi semangat pada peserta baik sebelum hingga berakhirnya ajang BNI UI Half Marathon ini,” imbuhnya.

Sementara itu, Ketua Pelaksana BNI-UI Half Marathon 2021 Dhany Marlen memaparkan, BNI-UIHM 2021 akan menjadi ajang lari secara virtual dengan menggunakan aplikasi GERAK dan mengundang komunitas dari berbagai daerah untuk ikut berlari. “Peserta dapat berlari di tempatnya masing-masing dan bahkan dapat juga berlari di luar wilayah Indonesia,” tutur Dhany.

Lebih lanjut, Dhany juga membeberkan, hanya ada satu jarak lari yang harus dilaksanakan oleh peserta BNI-UIHM 2021, yakni sepanjang 21.1 kilometer. Terdapat dua kategori submission bagi peserta untuk dipilih, yakni multiple submission dan single submission. Selain itu, peserta yang menyelesaikan lari pada BNI-UIHM 2021 berkesempatan menerima undangan untuk mengikuti seri BNI-UIHM berikutnya yang dilaksanakan secara luring. “Siapapun bisa berlari, dan bagi yang menyelesaikan lari, bisa mendapatkan undangan untuk berlari secara offline di UI-Half Marathon seri berikutnya,” tambahnya.

BNI-UI Half Marathon 2021 menawarkan pengalaman berbeda sebagai ajang lari virtual. Tersedia fitur menarik seperti virtual cheers dan playlist spotify untuk menemani peserta selama berlari. Ada juga fitur lainnya berupa filter Instagram virtual gate yang dapat digunakan oleh setiap pelari. Selain itu, panitia juga telah menyiapkan beberapa hadiah menarik bagi peserta yang menyelesaikan beberapa tantangan yang akan disampaikan kepada peserta menjelang periode lari.

Categories
Aplikasi dan Teknologi Berita

ILUNI UI Gandeng Bank Mandiri Kembangkan Transaksi NonTunai

Jakarta, 11 November 2021 – Ikatan Alumni Universitas Indonesia (ILUNI UI) bekerja sama dengan Bank Mandiri mengembangkan  transaksi keuangan digital yang akan diimplementasikan pada aplikasi UI Connect 2.0, yaitu Mandiri Direct Debit, e-Commerce Payment, QRIS Online dan Fitur Top-Up Emoney. Tahap awal, ILUNI UI berkolaborasi dengan Bang Mandiri menerbitkan Kartu Tanda Anggota (KTA) ILUNI UI Co-Brand Combo (fungsi kartu debit dan kartu prabayar).

Nota kesepahaman (MoU) kerjasama tersebut ditandatangani oleh Ketua Umum ILUNI UI Andre Rahadian dan Direktur Hubungan Kelembagaan Bank Mandiri Rohan Hafas yang disaksikan oleh Wakil Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Budi Arie Setiadi, Ketua Majelis Wali Amanat Universitas Indonesia Saleh Husin, Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Universitas Indonesia Abdul Haris, dan Wakil Direktur Utama Bank Mandiri Alexandra Askandar di Jakarta, Kamis (11/11).

Andre Rahadian mengatakan pihaknya menyambut baik kolaborasi yang dilakukan bersama Bank Mandiri dalam pembuatan KTA ILUNI UI. Andre menyebutkan, teknologi menjadi kunci bagi ILUNI UI dalam mewujudkan kohesi kebangsaan pada setiap program-programnya. “ILUNI UI dengan tema kolaborasi sebagai ruang temu mengedepankan konsep kohesi kebangsaan pada saat ini dan kerja sama dengan banyak pihak, menjadi salah satu tools sebagaimana kita juga menjadikan teknologi sebagai jalan mencapai kohesi tersebut dan ruang temu yang akan diprogramkan ILUNI UI,” ujar dia.

Sementara itu, Alexandra Askandar turut menyampaikan apresiasi atas kerja sama yang terjalin antara Bank Mandiri dan ILUNI UI. “Selain mendukung Gerakan Nasional Non-Tunai, inisiatif ini merupakan implementasi visi  menjadi partner finansial pilihan utama masyarakat Indonesia melalui transformasi menjadi modern digital bank terbaik yang dapat menghadirkan solusi perbankan digital yang handal dan simpel untuk berbagai kebutuhan nasabah,” kata dia.

Dia menjelaskan, produk khusus bagi ILUNI UI tersebut dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan transaksi mulai dari pembayaran hingga tarik tunai dari para anggota ILUNI UI. “KTA ILUNI Co-Brand Combo ini dapat menjadi solusi memenuhi kebutuhan transaksi bagi seluruh anggota ILUNI UI dengan beragam fitur layanan yang tersedia di dalam satu kartu,” ucap Alexandra.

Selain berbagai promo menarik, Andre juga menjelaskan berbagai keunggulan lain dari KTA ILUNI UI – Mandiri. Salah satunya, para alumni dapat mendaftarkan pembuatan KTA ILUNI UI – Mandiri dengan mudah melalui aplikasi UI Connect. Aplikasi ini merupakan aplikasi berjejaring para alumni UI. Hingga saat ini, tercatat 118 ribu lebih alumni yang telah mendaftar dan terverifikasi sebagai anggota di aplikasi UI Connect.

 “Ini merupakan revolusi digital dalam pembuatan KTA ILUNI UI Co-Brand Combo yang diharapkan mempermudah para alumni membuat KTA ILUNI UI. Ke depan, aplikasi UI Connect  2.0 juga akan mengembangkan fitur-fitur menarik yang akan memperkaya pengalaman penggunanya,” jelas Andre.

Agar dapat dimanfaatkan untuk berbagai transaksi non tunai, fungsi e-money pada KTA ILUNI UI juga dapat diisi ulang dengan menggunakan aplikasi Livin’ by Mandiri pada smartphone Android, IOS (Iphone) maupun e-commerce yang sudah bekerjasama dengan Bank Mandiri, pada mesin ATM dan Kantor Cabang Bank Mandiri.

Categories
Berita Iluni 4.0 Kegiatan

Dukung RSUI, ILUNI UI dan Arogya Ciptakan Layanan Kesehatan Berbasis AI

Depok, 5 November 2021 – Untuk mendukung operasional Rumah Sakit UI (RSUI), Ikatan Alumni Universitas Indonesia (ILUNI UI) bekerja sama dengan perusahaan teknologi Artificial Intelligence (AI) Arogya.ai menciptakan inovasi dalam layanan kesehatan. Kerja sama ini memanfaatkan teknologi AI berbasis infrastruktur ICT (Information and Communication Technology) untuk mendukung supply chain dan administrasi rumah sakit.

Ketua Umum ILUNI UI Andre Rahadian mengatakan, kerja sama ini juga merupakan Hasil Temu dan tonggak baru kerja sama dengan almamater UI dan juga perusahaan alumni UI, yang diorkestrasi ILUNI UI. “Hal ini merupakan salah satu misi ILUNI UI untuk menghubungkan alumni, untuk memberi manfaat kepada RSUI sebagai salah satu teaching hospital terkemuka di Indonesia, dan kepada bangsa,” ungkap Andre dalam acara penandatanganan kerja sama ILUNI UI, RSUI, dan Arogya.ai bertempat di Auditorium lantai 4, RSUI, Kampus UI Depok.  

Andre melanjutkan, ke depan artificial intelligence dan big data jadi prasyarat institusi untuk maju. Saat ini, pandemi menimbulkan disrupsi di supply chain dan semua port terhambat karena supply barang terhambat. Efeknya pun menjalar sampai sekarang. Oleh karena itu, menurut Andre, kemampuan memprediksi ke depan dengan AI jadi krusial untuk menentukan sukses dan kelancaran kegiata di rumah sakit. “Logistik atau supply chain selama pandemi jadi sangat penting. Seperti yang kita tahu, ada kelangkaan obat, kelangkaan alkes di rumah sakit. Kalau kita tahu, bisa kita prediksi dari awal kebutuhan-kebutuhannya. Karena kemampuan ada, tapi materialnya yang tidak ada. Jadi mudah-mudahan makin banyak alumni yang membawa expertise-nya ke kampus,” kata dia. 

ILUNI UI dengan konsep ruang temu, pada tahun ketiga mengedepankan Hasil Temu. Andre berharap  kolaborasi antar banyak pihak di mana ada alumni dan expertise, serta menjadi legacy yang bisa dikembangkan. “ILUNI UI sebagai organisasi alumni UI siap menjadi medium mempertemukan semua kepentingan, baik dari universitas, almamater, Kita dorong agar kemajuan tercapai,” ujar Andre.

Ketua ILUNI 4.0 Fithra Faisal menjelaskan, fasilitasi kerjasama antara arogya AI dengan RS UI ini merupakan bagian tak terpisahkan dari program-program center 4.0 yang selalu mengedepankan prinsip kolaborasi dan inovasi. “Center 4.0 memberikan apresiasi yang sebesar-besarnya dari kolaborasi produktif ini. Hendaknya kedepan, ini menjadi preseden bagi aktivitas kolaborasi antar pemangku kepentingan dalam ekosistem Universitas Indonesia,” kata Fithra.

Direktur Utama  RSUI DR. dr. Astuti Giantini Sp. PK (K), MPH menekankan pentingnya penggunaan teknologi untuk mendukung rumah sakit dalam meningkatkan layanan kesehatan. Dukungan ini tidak hanya untuk masa pandemi saja, tapi diharapkan berlanjut hingga memasuki masa post-pandemic. “Peranan teknologi justru semakin dibutuhkan. Untuk itu, kami sangat mengapreasiasi hadirnya inovasi pemanfaatan teknologi Artificial Intelligence atau AI di RSUI,” ungkap dr. Astuti.

Lebih lanjut, dr. Astuti juga memaparkan, teknologi tersebut menghadirkan sistem yang terintegrasi dan lebih efisien, mulai dari supply chain hingga administrasi. Sehingga diharapkan teknologi ini dapat menekan biaya operasional yang lebih besar. “Hal ini juga menjadi langkah kesiapan RSUI untuk menjadi rumah sakit yang menerapkan digitalisasi di Indonesia guna mendukung Universal Health Coverage (UHC). RSUI berharap kolaborasi ini dapat berjalan efektif dalam upaya peningkatan layanan kesehatan yang terintegrasi dengan teknologi tinggi,” imbuh dia.

Sementara itu, Founder dan CEO Arogya.ai Victor Fungkong menjelaskan dalam sambutannya, supply chain sangat vital dalam sistem pelayanan rumah sakit.  Akan tetapi, sering kali purchasing rumah sakit melakukan forecast kebutuhan obat-obatan dan peralatan medis berdasarkan analisis statis, bukan berdasarkan analisis yang dinamik, Akibatnya, forecast tersebut menjadi kurang akurat mengakibatkan overstock dan understock. Adanya sistem order dan inventory management berbasis artificial intelligent pun dapat membantu pihak managemen untuk dapat membuat keputusan pemesanan dan pembelian stok obat-obatan dan peralatan medis dengan akurat. “Oleh sebab itu, Arogya hadir memberikan solusi untuk membantu optimalisasi management supply chain layanan kesehatan di Indonesia. Order manager, inventory manager, dan h-commerce yang diciptakan Arogya merupakan AI supply chain layanan kesehatan pertama di Indonesia, diciptakan di Indonesia, untuk  layanan kesehatan Indonesia yang lebih baik,” tutupnya.