Categories
Berita Kegiatan

ILUNI UI Targetkan Dana Abadi Rp 10 Miliar untuk Beasiswa UI

Jakarta, 26 Februari 2021 – Ketua Umum Ikatan Alumni Universitas Indonesia (ILUNI UI) Andre Rahadian menargetkan 10 miliar rupiah untuk program Dana Abadi UI tahun 2021. Dana Abadi ILUNI UI akan disalurkan sebagai donasi untuk beasiswa mahasiswa UI dan riset dosen UI.

Peluncuran program Dana Abadi ILUNI UI secara resmi dilakukan pada kegiatan Sarahsehan Dana Abadi ILUNI UI yang digelar secara daring. Program ini merupakan wujud kontribusi alumni untuk almamater. “Kegiatan ini dimaksudkan untuk memulai suatu kegiatan besar dari ILUNI UI yang bekerja sama dengan Direktorat Pengembangan Karir Lulusan & Hubungan Alumni (DPKHA) UI. Pengumpulan dana abadi merupakan salah satu cara mendukung proses belajar mengajar di UI,” ujar Andre dalam sambutannya melalui Zoom, Jumat (26/2).

Menurut data DPKHA UI, jumlah dana abadi tercatat sekitar 61 miliar rupiah. Andre memaparkan, saat ini universitas-universitas ternama di dunia berhasil mengumpulkan dana abadi dalam jumlah lebih besar. Universitas Harvard memiliki jumlah dana abadi terbesar di dunia senilai 37 miliar USD, disusul Universitas Yale dengan angka mencapai 35 miliar USD, dan Stanford sebesar 22 miliar USD. Sementara itu, beberapa universitas terbaik di Asia seperti NUS di Singapura mengumpulkan 4 miliar USD, Universitas Kyoto 2.2 miliar USD, dan NTU Singapura senilai 2 miliar USD. “UI sendiri masih harus mengejar pencapaian universitas di negara tetangga. Untuk itu, kami berharap partisipasi dari Rekan-Rekan Alumni untuk bisa sama-sama mendorong peningkatan jumlah dana abadi UI,” ungkapnya.

Lebih lanjut Andre menjelaskan, berdasarkan info dari DPKHA UI, target periodik dana abadi UI sebesar 500 miliar rupiah, sedangkan untuk 2021 sebesar 125 miliar rupiah. Kebutuhan beasiswa rata-rata untuk tahun 2020 sebesar 28 juta rupiah per mahasiswa tiap tahunnya, dengan target sebesar 10 ribu mahasiswa aktif. “Kebutuhan beasiswa dengan jumlah mahasiswa aktif yang ada cukup besar. Dan kita memang butuh lebih banyak lagi dana abadi karena bukan hanya untuk beasiswa mahasiswa, tapi juga riset dosen. Semakin besar dana abadi, semakin leluasa UI untuk meningkatkan kualitasnya,” papar Andre. 

Sementara itu, Ketua Majelis Wali Amanat (MWA) UI Saleh Husin menyampaikan apresiasi kepada ILUNI UI dan DPKHA UI yang telah melakukan peluncuran program penghimpunan dana abadi UI. Dia juga mengatakan, jaringan alumni UI yang menjadi tokoh-tokoh besar memungkinkan UI meraih target dana abadi 500 miliar rupiah. “Saat ini MWA UI sedang menyusun Statuta UI yang di dalamnya salah satunya membentuk MWA Kehormatan. Di dalam MWA Kehormatan, kita dapat mengajak tokoh-tokoh potensial untuk menghimpun dana yang jauh lebih besar,” imbuh Saleh.

Pada kesempatan tersebut, ILUNI UI juga menerima donasi dana abadi dari Yayasan Bhakti ILUNI UI. Yayasan ini dibentuk oleh Ketua Umum ILUNI UI periode 2007 – 2011 yang kini menjabat sebagai Menteri Agraria dan Tata Ruang RI Dr. Sofyan A. Djalil, S.H., M.A., M.ALD. Donasi senilai  Rp 657.548.201,00 diserahkan secara simbolis oleh Bendahara Yayasan Bakti ILUNI UI Bakhtiar Rahman kepada ILUNI UI.

Dalam sambutannya, Dr. Sofyan A. Djalil turut menyampaikan dukungan atas penyelenggaraan program Dana Abadi ILUNI UI. Dia juga menekankan pentingnya pengelolaan dana abadidengan baik. “Fundraising dana abadi jika dibuat yang bagus dan diaudit apa yang ada, saya pecaya suatu saat UI bisa memiliki endowment fund hingga triliunan,” ujarnya.

Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan UI Prof. Dr. Ir. Dedi Priadi, DEA menyampaikan apresiasinya kepada Yayasan Bakti ILUNI UI dan ILUNI UI. Menurutnya, alumni memegang peranan penting bagi keberhasilan dan kelancaran proses belajar di kampus. Pada masa pandemi, kontribusi alumni pun semakin dibutuhkan. “Untuk itu, UI siap bersinergi untuk mengajak seluruh alumni berperan dalam pendidikan tinggi dan apa saja penghargaan yang siap UI berikan untuk para alumni,” pungkasnya (*).

Informasi selengkapnya: Devi Irma Safitri +62 813 8044 9686 (Sekretariat ILUNI UI)

Categories
Berita Utama

ILUNI UI Salurkan Paket Makanan di Enam Lokasi untuk Korban Banjir Jakarta

Jakarta, 23 Februari 2021 – Ikatan Alumni Universitas Indonesia (ILUNI UI) melalui Community Disaster Response Team (Co-DRT) ILUNI UI menyalurkan 1.500 makanan siap saji ke enam wilayah di Jabodetabek. Selain itu, tim juga mengirimkan logistik dapur umum dan peralatan kebersihan untuk membantu pengungsi maupun masyarakat terdampak banjir.

Aksi kepedulian alumni UI dalam program ILUNI UI Peduli berlanjut ketika banjir meluas juga di Jakarta dan sekitarnya. Ketua Umum ILUNI UI  Andre Rahadian menyampaikan bahwa  bantuan tanggap darurat untuk korban banjir Jakarta dan sekitarnya telah dilaksanakan sejak Sabtu siang. “Tim ILUNI UI Peduli segera diaktivasi dan turun ke daerah terdampak dan mempersiapkan bantuan yang dapat kami kumpulkan dari berbagai stakeholder ILUNI UI,” ujar Andre.

Sementara itu Ketua ILUNI UI sekaligus Koordinator ILUNI UI Peduli Endang Mariani menyampaikan berbagai rencana yang telah dilakukan tim Co-DRT. “Tim Co-DRT ILUNI UI Peduli melakukan asesmen dan koordinasi dengan untuk penyaluran bantuan bagi penyintas banjir. Termasuk melakukan pemetaan wilayah terdampak, serta evaluasi kemampuan dan kekuatan yang dimiliki,” kata dia.

Endang menyebut, titik aksi dimulai dari dapur umum RW 05 Bangka. Selanjutnya, 1.500 paket makanan siap saji dan keperluan logistik dapur umum  dibagikan ke berbagai titik pengungsian besar, yaitu GOR Otista, Pondok Gede Permai (PGP), Komplek IKPN Veteran-Bintaro, Posko Siaga Bencana kelurahan Petogogan, dan Pejaten Timur. “Pemilihan titik pengungsian didasarkan pada hasil asesmen dan kontak jaringan Alumni Peduli Center (APC) ILUNI UI,” jelasnya.

Endang menambahkan, sebagian paket makanan siap saji juga dikirimkan ke Posko Sanggar Anak Akar,  Pangkalan Jati, Cipinang Melayu, IKIP Jatibening, Cipinang Muara, hingga ke daerah Tambun. Bantuan dikirimkan sambil tetap melakukan asesmen kebutuhan penyintas. Logistik dapur umum berkolaborasi dengan ASNation juga dikirimkan ke Posko Gereja GSRI, GOR OTISTA, dan Bidara Cina. “Walaupun banjir telah surut, kebutuhan dapur umum untuk ratusan pengungsi masih akan berlangsung hingga 2-3 hari ke depan,” ucap dia.  

Selain di Jakarta dan sekitar, sejak  tanggal 12 – 14 Februari ILUNI UI telah menjalankan misi kemanusiaan membantu korban banjir di Karawang. Bukan hanya bantuan logistik, ILUNI UI bersama Rumah Sakit UI, ILUNI Fakultas Ilmu Keperawatan (FIK) UI, ILUNI Resimen Mahasiswa (MENWA) UI berkolaborasi dengan ASNation dan para mitra lainnya, juga memberikan layanan kesehatan di tiga titik yakni Karangligar Telukjaya, Muara Gembong, dan PakisjayaTeluk Jaya. Berbagai persiapan terus dilakukan untuk mengantisipasi masalah kesehatan paska banjir. Endang juga menekankan penerapan protokol kesehatan untuk para relawan yang tengah turun ke lapangan. “Untuk mengurangi risiko terpapar Covid-19 bagi para relawan yang turun ke lapangan, protokol kesehatan ketat sama sekali tidak boleh diabaikan. No excuse,” tegasnya.

Lebih lanjut, Endang mengatakan, tim Co-DRT ILUNI UI Peduli selalu memberikan update informasi kebutuhan dan berencana melanjutkan aksinya sesuai situasi dan kondisi. Hal ini dilakukan mengingat bencana banjir membutuhkan respons cepat. “Ketika air surut, bukan berarti masalah yang ditinggalkan banjir akan selesai. Dampak psikologis juga dirasakan oleh mereka yang terdampak. Sampah dan lumpur yang menggunung, ancaman penyakit serta kecemasan akan terjadinya banjir berulang, menjadi PR lainnya. Oleh karena itu, tim pendampingan psikososial juga akan diturunkan untuk membantu,” imbuh dia.

Selain masih terus mengirimkan bantuan di Jakarta dan sekitarnya, tim ILUNI UI Peduli dipimpin Ketua APC ILUNI UI Missy Lawalata bergerak kembali ke Karawang. “Kali ini tim menuju Karawang Barat yang kembali terdampak banjir. Untuk itu, ILUNI UI menyampaikan terima kasih atas kerja keras, kerja cepat, dan kerja ikhlas tim ILUNI UI Peduli. Dengan dukungan semua pihak, kepedulian terhadap sesama terus dapat diwujudkan, tanpa harus menunggu datangnya bencana,” pungkasnya (*)

Informasi selengkapnya: Devi Irma Safitri +62 813 8044 9686 (Sekretariat ILUNI UI)

Categories
Berita Terbitan Utama

Personal Branding, Strategi Untuk Fresh Graduate Berhasil di Dunia Kerja

Jakarta, 20 Februari 2021 – Pencarian kerja menjadi sebuah kompetisi yang tak terelakkan bagi mereka yang baru lulus kuliah (fresh graduate). Merekatak hanya bersaing dengan sesama rekan yang belum berpengalaman kerja namun juga dengan pekerja yang sudah memiliki pengalaman. Dibutuhkan strategi jitu bagi fresh graduate untuk dapat menonjol dan menunjukan kompetensi yang dimiliki melalui Personal Branding yang tepat. Strategi inilah yang coba dibagikan oleh Tim Alumni Mentorship, yang bernaung di bawah Almamater Center ILUNI UI (Ikatan Alumni Universitas Indonesia), melalui acara online training yang mengangkat bertajuk “Building Personal Branding for Fresh Graduates”. Training yang diadakan pada Sabtu, 20 Februari 2021 ini merupakan bagian dari program Future Star Corps (FSC) 2021.

Apa itu personal branding? Istilahini mungkin masih terdengar asing bagi para fresh graduates. Menurut Senior HR Consultant, Career & Personal Development Expert, Tuti Indrawati, yang menjadi pemateri dalam online training tersebut, personal branding adalah sebuah konsep baru dalam dunia Marketing, terkait dengan strategi seseorang untuk mempromosikan dirinya, kekuatan atau pun karakter pribadi yang menonjol dari dirinya. Konsep inilah yang diangkat dalam tranining yang merupakan hasil kerjasama antara Almamater Center Ikatan Alumni Universitas Indonesia (ILUNI UI) dengan Direktorat Pengembangan Karier dan Hubungan Alumni UI (DPKHA UI dan Komunitas Coach MCC.

Tuti yang juga Alumni Fakultas Psikologi UI menjelaskantigahal pentingdalam membangun brand diri tersebut. “Personal branding adalah memahami apa yang sejatinya unik tentang diri dan menggunakan keunikan tersebut untuk membedakannya dari orang lain serta membimbing diri dalam keputusan karir. Dalam membangun personal branding perlu untuk mengenali apa yang akan ditonjolkan sebagai materi promosi diri, lalu mengidentifikasi karakter, minat, nilai-nilai pribadi, dan keterampilan yang kemudian dipadukan dalam kemasan yang menarik,” paparnya.

Lebih lanjut Tuti menjelaskan bahwa membangun personal branding harus didukung dengan pernyataan pencapaian kesuksesan. Hal ini dapat dan perlu ditampilkan, misalnya, dalam resume dan pada saat wawancara. Untuk dapat menyampaikan cerita ringkas tentang capaian sukses tersebut, menurutnya perlu adanya identifikasi pencapaian yang dapat dilakukan melalui metode SOAR. Metode ini digunakan dengan menggali empat hal dalam sebuah kisah sukses yang telah dicapai, yaitu Situation (situasi), Obstacles (hambatan), Action (tindakan), dan Results (hasil).

Setelah mengupas seputar membangun personal branding yang baik, pada sesi kedua pelatihan virtual ini juga dipaparkan panduan dalam membuat resume atau CV (curriculum vitae) yang ‘menjual’ serta bagaimana menyampaikan brand diri dalam sebuah wawancara kerja. Dipandu oleh Host Peter Samuel Oloi, seorang Performance Management Specialist, dan Deasy Meutia Amrin, seorang Psikolog, sebagai Co-Host, pelatihan ini mengajak fresh graduates untuk mempersiapkan diri agar dapat unggul dalam memasuki dunia kerja professional.

Sementara itu, Ketua Almamater Center M. Try Sutrisno Gaus menyebut, Program Future Star Crops merupakan upaya ILUNI UI untuk membantu para mahasiswa dan alumni muda untuk mempersiapkan diri menghadapi kehidupan paska kampus. Program Future Star Corps diharapkan dapat menjadi jembatan dalam mempertemukan para alumni UI potensial dengan para mahasiswa dan alumni mudanya dalam menyiapkan SDM unggul untuk Indonesia maju. ”Untuk itu, kami telah menyiapkan rangkaian kelas coaching, seminar, dan training yang mengundang praktisi karier dan profesional dari para alumni UI, juga bekerja sama dengan komunitas dan lembaga,” ujar Gaus.

Selain training, Program Future Star Corps juga memberikan kegiatan Group Coaching berkolaborasi dengan komunitas Coach MCC. Dalam kegiatan ini, peserta mendapat kesempatan untuk berdialog dan mengeksplorasi diri lebih mendalam dengan bimbingan Certified Professional Coach, sehingga dapat lebih memahami materi yang disampaikan. Kesuksesan acara ini tidak lepas dari peran Ivan Rahadian, anggota tim Alumni Mentorship, yang mengawal sebagai Koordinator Acara.

Tentang Program Future Star Corps (FSC) 2021

Future Star Corps adalah program spesial yang diselenggarakan oleh ILUNI UI (Ikatan Alumni Universitas Indonesia) melalui Alumni Mentorship Almamater Center. Selain training, rangkaian kegiatan dalam program FSC juga menyelenggarakan kegiatan coaching secara berseri dengan dibimbing oleh tim Certified Professional Coach, serta seminar karir bertajuk “Life After Campus Seminar” yang menampilkan tokoh-tokoh masyarakat atau nasional yang juga alumni UI. Semuanya ditujukan untuk membantu menyiapkan rekan-rekan fresh graduate agar dapat lebih percaya diri dan adaptif, sehingga lebih mantab dan untuk berperan dalam “dunia nyata”, termasuk dunia profesional, setelah lulus kuliah. Jika tahun sebelumnya program ini lebih banyak ditujukan khusus untuk kalangan Universitas Indonesia, tahun ini FSC juga menyelenggarakan acara training, group coaching dan seminar karir yang dibuka untuk umum. Program ini  

Informasi selengkapnya: Devi Irma Safitri +62 813 8044 9686 (Sekretariat ILUNI UI)

Categories
Berita

ILUNI UI Buka Suara Soal Kasus Plagiarisme di Perguruan Tinggi

Jakarta, 15 Februari 2021 – Ketua Umum Ikatan Alumni Universitas Indonesia (ILUNI UI) Andre Rahadian memberikan suara dan opininya terkait kasus plagiarisme yang marak terjadi di perguruan tinggi. Dia menilai, plagiarisme dalam perguruan tinggi berpotensi merusak karakter bangsa.

“Perguruan tinggi bukan hanya tempat untuk menimba ilmu, tapi Juga karakter. ILUNI UI menaruh perhatian besar adanya persoalan plagiarisme yang dapat menurunkan karakter yang sangat diperlukan oleh bangsa indonesia yaitu kejujuran,” ucap Andre dalam pembukaan diskusi daring Forum Diskusi Salemba Policy Center ILUNI UI dengan tema “Menjaga Kehormatan Dunia Akademik Indonesia: Cegah Plagiarisme”, Senin (15/2).

Menurut Andre, sikap permisif menjadi salah satu sumber dari maraknya berbagai kasus plagiarisme yang terjadi pada dunia pendidikan tinggi. Andre berharap, pihak yang berwenang dalam dunia pendidikan dan para pemangku kepentingan lainnya bisa bersikap tegas dan serius dalam menangani plagiarisme dalam bentuk apapun. “ILUNI UI berharap riset nasional dan international oleh para pendidik di kampus apalagi kampus sekelas UI harus semakin digalakkan, sehingga semakin banyak karya-karya tulis pengajar yang mendapatkan sitasi,” ungkapnya.

Tim Penilai Angka Kredit Dosen Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Republik Indonesia Prof. Dr.rer.nat. Heru Susanto, S.T., M.M., M.T. menjelaskan dalam menerbitkan karya ilmiah terdapat kode etik yang harus dipatuhi. Plagiarisme merupakan salah satu bentuk pelanggaran dari kode etik karya ilmiah, termasuk self plagiarism. “Ketika suatu karya sudah dipublikasikan, ada copyright transfer agreement. Sepanjang belum dilakukan, karya tersebut masih milik penulis. Begitu sudah dipublikasikan, maka itu milik penerbit. Dalam dunia sains dilihat dari pendekatan etika, self plagiarism sudah masuk ke dalam plagiat,” papar Prof. Heru.

Lebih lanjut, Prof. Heru menyatakan, seseorang yang melakukan pelanggaran etika, maka sanksinya seharusnya secara etika. Ketika seorang dosen melakukan suatu plagiat dan diketahui kalangan akademisi dan publik, maka kariernya seharusnya sudah selesai sebagai dosen. “Membawa sanksi etik kepada pelanggaran hukum tentu ada kendala karena regulasi yang ada tidak atau belum cukup untuk mengakomodir pelanggaran kode etika. Perkembangan pelanggaran etika juga jauh lebih cepat dari perkembangan perangkat regulasi,” imbuh dia.  

Senada dengan Prof. Heru, Ketua Majelis Wali Amanat (MWA) Universitas Sumatera Utara Dr.Nurmala Kartini Pandjaitan Sjahrir juga menyoroti regulasi seputar plagiarisme yang menurutnya harus terus diperbarui. Salah satunya, belum adanya regulasi yang mengatur tentang self plagiarism. “Kalau tidak memperbarui dan mengamati pedoman terkait plagiarisme, yang terjadi adalah polemik tidak berakhir yang akan menciptakan kubu-kubu,” tukas dia.

Dr. Kartini juga menekankan dalam pola relasi dan hubungan antara Kemendikbud dan perguruan tinggi, Kemendikbud merupakan pengambil keputusan. Sehingga, ketika terjadi sebuah kasus seperti self plagiarism, diperlukan pedoman yang betul-betul rinci. “Perubahan terjadi dengan cepat di era digitalisasi saat ini. Mana yang boleh, mana yang tidak bisa jadi rancu. Orang bisa saja bertanya apa salahnya kutip karya miliknya sendiri. Hal ini harus diselesaikan dari segi etik dan hukum, apakah boleh atau tidak,” sebutnya.

Menanggapi isu seputar plagiarisme, Ketua Dewan Guru Besar UI Prof. Harkristuti Harkrisnowo, S.H., M.A., Ph.D. menyampaikan bahwa UI telah memiliki regulasi yang mengatur plagiarisme di kalangan Sivitas Akademika UI. “Peraturan internal UI yang berkaitan dengan plagiarisme minimal ada tiga ketentuan. Yang pertama, peraturan Rektor UI No. 2018/SK/R/UI/2009 tentang pedoman penyelesaian masalah plagiarisme yang dilakukan Sivitas Akademika UI, pada 2018 ada peraturan rektor juga Tentang Sistem Pelaporan Dugaan Pelanggaran, dan yang terbaru Peraturan Rektor UI no. 14 tahun 2019 tentang Kode Etik dan Kode Perilaku UI,” jelas Prof. Tuti.

Kemudian, ia juga menambahkan berbagai upaya lain yang telah dilakukan UI untuk mengatasi masalah plagiarisme di dalam Sivitas Akademika UI di antaranya, mewajibkan mahasiswa untuk memberikan pernyataan tertulis untuk skripsi, tugas akhir, tesis, dan disertasi bahwa karya ilmiah tersebut bebas plagiarisme. Jika terbukti melanggar, akan ada sanksi berupa pencabutan gelar. UI juga mewajibkan pembimbing untuk memberikan dokumen  Pedoman Penulisan Karya Ilmiah, serta membatasi jumlah bimbingan yang dilayani. “UI juga berlangganan I-Thenticate dan Turnitin untuk melakukan similarity checking yang wajib dilalui mahasiswa yang menuliskan tugas akhir,” katanya.

Sementara itu, Ketua Yayasan Cahaya Guru Dra. Henny Supolo MA menilai kasus plagiarisme yang terjadi di dunia pendidikan tinggi saat ini merupakan hasil dari berbagai sistem pendidikan yang rentan pada pembenaran ketidakjujuran. Pendidikan dilihat hanya berfokus pada hasil, tapi tidak berfokus pada kematangan dan kesiapan anak. “Dari dasarnya, sistem pendidikan sudah membuka kemungkinan ketidakjujuran dan lemahnya berpikir kreatif dan kritis,” kata Dra. Henny.

Untuk itu, dia mendorong penyelenggara pendidikan dan pihak-pihak terkait untuk menilik ke arah tiga pusat pendidikan dari Ki Hajar Dewantoro yakni alam pendidikan, alam keluarga, dan alam pergerakan pemuda. Tiga pusat ini punya tanggung jawab untuk  membangun kejujuran seseorang yang dilakukan secara dini dan konsisten. “Jadi ini semua tidak ujuk-ujuk di pendidikan tinggi, tapi sudah diwarisi sejak pendidikan dasar,” pungkasnya. (*)

Informasi selengkapnya: Devi Irma Safitri +62 813 8044 9686 (Sekretariat ILUNI UI)