Categories
Berita Terbitan

Menyulap Sampah Rumah Tangga Agar Bernilai Tambah

Jakarta, 7 November 2020 – Tumpukan sampah di rumah bisa diubah menjadi sesuatu yang memiliki nilai tambah ekonomi. Hal inilah yang dibahas lengkap pada seri kedua webinar series Ekowisata PJJ dengan tema Workshop: Jitu dan Mudah Kelola Sampah Rumah Tangga,Sabtu (07/11). Melalui acara ini, Community Development Center Ikatan Alumni Universitas Indonesia (ILUNI UI) mengajak masyarakat luas untuk ikut serta berpartisipasi melakukan pemilahan dan pengelolaan sampah rumah tangga dengan memberikan tips dan trik mengelola sampah di rumah.

Ketua ILUNI UI Endang Mariani, dalam sambutannyamenyampaikan bahwa sampah rumah tangga menyumbangkan jumlah yang cukup signifikan dalam timbunan sampah di TPS dan TPA. “Data KLHK 2019 mencatat sebanyak 48% dari 64 juta ton timbunan sampah berasal dari rumah tangga. Karena itu, kami hadirkan workshop ini sebagai rangkaian kegiatan edukasi dari ILUNI UI kepada masyarakat tentang bagaimana memilah sampah rumah tangga dan mengelolanya agar bernilai ekonomis. Semoga masyarakat terajak untuk ikut dan aktif mengelola sampah rumah tangga melalui Reduce, Reuse, dan Recycle (3R), sehingga tidak jadi sampah yang dibuang dan mengotori lingkungan, tapi juga ada manfaat ekonomi,” tuturnya.

Salah satu teknik untuk mengelola sampah adalah dengan menggunakan teknik mengompos. Kegiatan ini menjadikan sampah basah seperti sisa makanan menjadi pupuk kompos yang bernilai ekonomis. Kegiatan mengompos dapat mengurangi sampah dari awal sebelum sampah terbentuk.

CEO Sustaination Dwi Sasetyaningtyas, menjelaskan empat hal dalam proses mengompos yaitu mikroba, materi coklat, materi hijau, dan udara. “Material coklat warnanya coklat, kering, bunyinya kriuk. Contohnya ranting, daun kering, kardus, koran, atau serpihan kayu. Sementara, material hijau yaitu semua yang segar seperti bunga, daun, bulu-bulu hewan, sisa sayur dan buah, roti, itu semua material hijau,” jelasnya.

Ada dua metode dalam mengompos, yakni metode dengan oksigen (aerob) dan tanpa oksigen (anaerob). Aerob membutuhkan oksigen atau udara melalui lubang komposter dan pengadukan sesekali, sedangkan anaerob menguraikan sampah tanpa menggunakan udara. Menurut Tyas bagi pemula dianjurkan menggunakan metode aerob karena relatif lebih mudah, hasil dapat dikontrol dengan risiko lebih rendah, serta tidak menimbulkan bau. Ia pun menambahkan bahwa mikroba menjadi kunci kesuksesan dalam kegiatan mengompos.

Selain sampah organik, sampah anorganik seperti sampah plastik juga dapat dipergunakan kembali untuk hal yang bermanfaat dan bernilai tambah. Sampah multilayered plastic yang berasal dari sampah kemasan seperti kemasan kopi instan, kemasan bumbu dapur, dan lain sebagainya merupakan salah satu penyumbang terbesar dalam sampah rumah tangga. Sampah-sampah ini telah dapat diolah kembali menjadi bahan baku bangunan oleh Rebricks Indonesia sejak tahun 2018.

“Rebricks Indonesia mentransformasi sampah plastik sisa menjadi bahan-bahan material bangunan. Untuk itu kami mengumpulkan sampah dari masyarakat melalui komunitas. Masyarakat luas juga dapat berpartisipasi dengan memilah sampah rumah tangganya terlebih dahulu. Sampah plastik tidak harus bersih, tapi harus kering. Jadi, kalau masih ada serbuk-serbuk di dalam kemasan, tidak perlu dicuci. Untuk plastik minyak, bisa dilap supaya kering. Setelah itu dikirim ke drop point kita di Setiabudi, Ciputat, dan Tangerang Selatan ,” ungkap Novita Tan, Co-Founder Rebricks Indonesia.

Lebih jauh, ia membeberkan proses pembuatan Rebricks Pavers yangmenggunakan green method di setiap pengolahannya, sehingga tidak menghasilkan polusi. “Kita pakai metode shredding yaitu dicacah lalu dicampurkan formula yang telah dibuat. Kemudian, dibentuk (dimolding) menjadi batu bata,” paparnya. Kedepan, Rebricks Indonesia memiliki visi menjadi bagian dari sirkular ekonomi dan memberi nilai tambah dengan memberikan pembayaran untuk sampah yang dikumpulkan.


Sementara itu, aktivis lingkungan hidup Ova Candra Dewi menekankan pentingnya mengolah sampah. Tak hanya baik bagi lingkungan dan bernilai ekonomis, kegiatan tersebut juga baik bagi kondisi psikis keluarga. Ia megingatkan bahwa setelah menciptakan suatu produk yang dikonsumsi, harus diketahui kemana produk tersebut berakhir. Selain itu, Ova juga menganjurkan untuk menghindari pemborosan makanan agar tak memproduksi lebih banyak sampah.

“Sampah itu impact nya sangat diverse, jadi tidak ada alasan lagi bagi kita untuk tidak memilah sampah. Kebutuhan lahan semakin banyak, sehingga berkompetisi antara TPA dan lahan tinggal. Oleh karena itu, diarahkan sampah yang dibawa ke TPA sedikit saja dengan kita lebih mengutamakan pengelolaan sampahnya,” tutup Ova. (*)

Categories
Berita Utama

Edukasi Pilah Sampah Lewat Kompetisi TikTok

Jakarta, 31 Oktober 2020 – Masyarakat diajak untuk belajar mengelola dan memilah sampah rumah tangga dengan cara mengikuti kompetisi Tiktok.

Kompetisi TikTok ini adalah bagian dari rangkaian kegiatan webinar series ‘Edukasi Kelola dan Pilah Sampah Rumah Tangga di Masa Pembelajaran Jarak Jauh (Ekowisata PJJ)’ yang dilakukan Community Development Center dari Ikatan Alumni Universitas Indonesia (ILUNI UI) dan berlangsung sepekan sejak Sabtu (31/10).

Ketua Community Development Center ILUNI UI Indri L. Juwono mengatakan, kegiatan ini digelar melihat adanya masalah baru krisis sampah akibat pandemi yang belum terselesaikan. “Selama pandemi, kegiatan di rumah saja berpotensi meningkatkan sampah rumah tangga. Pengelolaan sampah yang sebelumnya dilakukan di sekolah pun ikut pindah ke rumah akibat PJJ. Melalui salah satunya kompetisi video TikTok berdurasi 1 menit, kami ingin mengajak masyarakat menerapkan pola hidup ramah lingkungan dengan praktik zero waste serta pengelolaan dan pemilahan sampah yang baik di rumah,” ungkapnya.

Meningkatnya sampah di rumah tangga ini disinyalir terjadi karena Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) yang tengah dilakukan saat ini menggeser masalah pengelolaan sampah dari sekolah ke rumah. 62% dari total sampah nasional disebutkan LIPI, telah disumbang oleh rumah tangga dimana persentase ini diperkirakan meningkat sejak pandemi akibat kegiatan di rumah saja seperti PJJ.

Meski begitu, ia lalu menjelaskan bahwa tidak ada kendala bagi para siswa, guru, dan orang tua untuk tetap bisa melakukan kegiatan pilah sampah selama PJJ yang sebelumnya dilakukan di sekolah. “Banyak cara dalam melakukannya. Untuk sekolah-sekolah yang sebelum PJJ melakukannya, tetap bisa mengaplikasikan kegiatan tersebut di rumah. Untuk sekolah yang belum, kami berharap kegiatan ini bisa menjadi inspirasi penanganan sampah terpilah di sekolah,” ujar Indri.

Di sesi pertama rangkaian webinar Ekowisata PJJ tersebut, Ketua Proyek Sekolah Hijau (Sekolah Adiwiyata) Selma Kurniawan, menceritakan berbagai program pengelolaan sampah di SDIT Anak Shalih Bogor. “Program pengelolaan sampah tetap dijalankan meski di tengah pandemi, kami terus mencoba mengumpulkan kekuatan dan kerja sama yang sudah terjalin antara sekolah, Dinas Lingkungan Hidup Kota Bogor, dan BASIBA (Bank Sampah Induk Berbasis Aparatur). Kami pilah sampah setiap Rabu dan Jumat, mengelola sampah organik atau bipori, serta menerapkan paperless office. Program tersebut tidak hanya dilaksanakan oleh sivitas akademika saja, tapi juga anak-anak dan orang tua di rumah,” papar Selma.

Di kesempatan yang sama, perwakilan Tim ASEAN Eco School SMPN 10 Malang Ida Wahyuni, mengatakan bahwa selama masa pandemi pengelolaan sampah di sekolahnya tetap mengutamakan prinsip 3R yakni reduce, reuse, dan recycle. Selain itu, siswa juga mendapat materi dan tugas oleh guru untuk melaksanakan percobaan di rumah dengan alat dan bahan bekas. “Kami melakukan kreasi mata pelajaran prakarya dengan bahan daur ulang yang dilakukan dari sebelum atau sesudah pandemi. Kegiatan ini membuat anak-anak senang mengerjakan kelola sampah di rumah dengan memanfaatkan botol-botol yang ada di rumah,” terangnya.

Menutup paparan webinar tersebut, Direktur Eksekutif Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik Tiza Mafira, menekankan pentingnya memisahkan sampah organik (sampah basah) dan sampah anorganik (sampah kering) agar tidak mencemari satu sama lain. ”Yang pasti sampah organik harus dilakukan composting agar tak memicu gas metana saat dimasukan ke dalam plastik. Selain mencemari udara, gas metana ini juga berpotensi bahaya di lokasi Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Kalau belum bisa composting sendiri, bisa ajak komunitas atau RT untuk membentuk fasilitas composting bersama,” tekannya. (*)

Categories
Community Development Center Program

ILUNI: “Ini Cara Efektif Kelola Keuangan Rumah Tangga”

Depok, 18 Desember 2019  ̶ Setiap orang memiliki tujuan keuangan berbeda-beda dalam hidupnya, tak terkecuali para Ibu Rumah Tangga. Sebagai pengelola keuangan keluarga, tak jarang para Ibu mengeluhkan sulitnya mengatur keuangan karena minimnya perencanaan sehingga para ibu sulit mencapai berbagai tujuan keuangan. Agar dapat mencapai berbagai tujuan keuangan, diperlukan cara mengatur keuangan efektif yang harus dikuasai para ibu rumah tangga. Oleh karena itu, Community Development ILUNI UI mengangkat isu ini melalui pelatihan berjudul #SobatMisqueenNoMore dengan tema “Cerdas Mengelola Keuangan UMKM”. Pakar perencanaan keuangan, Kokko Cattaka, yang juga merupakan founder DoitSmart.id sebuah perusahaan rintisan konsultasi perencanaan keuangan, asuransi, investasi dan perencanaan waris, mengatakan untuk dapat menentukan tujuan keuangan, diperlukan lima hal.

Pada seminar tersebut, Kokko menyatakan, “Buat tujuan keuangan yang Spesifik, bisa diukur, kapan mendapatkannya, dan harus sesuatu yang masuk akal serta jelas jangka waktu pencapaiannya,” jelasnya. Kelima poin tersebut disingkat menjadi S.M.A.R.T. Poin yang pertama adalah Spesific yakni menentukan tujuan keuangan secara spesifik. Setelah itu, pastikan tujuan tersebut dapat diukur alias Measurable. Poin selanjutnya adalah Achievable, yaitu tujuan yang dapat dicapai dengan kemampuan sendiri. Selain itu, tujuan harus sesuai dengan kondisi diri sendiri atau Relevant. Poin terakhir adalah Timely, buat kalendar untuk tujuan-tujuan yang ingin dicapai.

Salah satu kendala dalam membuat anggaran untuk mencapai tujuan keuangan adalah kerap kali Ibu Rumah Tangga mengalami kesulitan dalam mengendalikan pengeluaran, sehingga yang terjadi adalah meski anggaran sudah disusun, tetap mengalami defisit keuangan. Menyikapi hal tersebut, Perencana keuangan yang mendapatkan Certified Financial Planning (CFP®) oleh FPSB Indonesia tersebut menekankan pentingnya disiplin dan niat yang kuat dalam mengelola keuangan. Jika berkaitan dengan pencatatan keuangan bagi mereka yang menekuni bidang usaha, harus disiplin dalam memisahkan antara modal dan operasional sehari-hari. Kokko juga menekankan, bahwa pengeluaran bukan untuk dihindari, hanya saja harus dikelola dengan baik.

Ia memaparkan, “Kalau misalnya pemasukan lebih besar dari pengeluaran, tentunya menjadi surplus yangmana bisa mendatangkan aset. Surplusnya jangan dijajanin, ingat kita punya tujuan keuangan. Surplusnya diinvestasikan kembali, kalau bisa dibelikan aset,” tukas Kokko.

Lebih jauh lagi, Kokko menekankan pentingnya untuk menunda dalam membelanjakan uang untuk kenikmatan duniawi, dan mempergunakan surplus keuangan untuk hal-hal yang berguna bagi masa depan keluarga. “Bisa dibelikan emas, atau disimpan di tabungan deposito. Kita harus memikirkan pos pengeluaran masa depan, misalnya buat pergi haji, pendidikan anak sampai perguruan tinggi, dan banyak lagi. Kita harus menyiapkan dari sekarang, jangan sampai kita sengsara di masa depan,” imbaunya. Lebih jauh lagi, ia menyarankan para Ibu untuk rajin berinvestasi, salah satunya melalui reksadana. “Tabungan atau rekening di bank bukan alat investasi, melainkan untuk mempermudah transaksi sehari-hari. Kalau mau berinvestasi bisa nabung dengan mudah di reksadana mulai dari 10 ribu saja. Untuk pemula setidaknya bisa coba investasi reksadana, karena dikelola manajer investasi yang handal,” tukas Kokko. Ia menambahkan, “Dari OJK pun menggalakkan gerakan ‘Yuk Nabung Saham atau Reksadana’, itu salah satu yang harus kita dukung”.

Sementara itu, dalam sambutannya di acara #SobatMisqueenNoMore, Indri Juwono selaku Ketua Community Development Center ILUNI UI menyatakan keinginan Community Development untuk dapat memberikan manfaat bagi masyarakat. “Perempuan memiliki potensi yang harus dikembangkan, maka hari ini Comdev bekerja sama dengan ibu-ibu dari Paguyuban Posbindu untuk memberikan pelatihan keuangan dari Kokko Cattaka,” ungkapnya. Indri pun mengutarakan komitmennya terkait dengan kegiatan pemberdayaan perempuan sebagai bagian dari cluster sosial dan filantropis dari Community Development. “Comdev ILUNI UI ingin saling mengisi, saling memberi ilmu. Di sini kita sama-sama bekerja sama untuk menciptakan lingkungan yang lebih baik,” tutur Indri.

Rangkaian program #SobatMisqueenNoMore merupakan program pelatihan dari Community Development ILUNI UI kepada Ibu Rumah Tangga dari komunitas terpilih dalam jangkauan ILUNI UI (atau atas rekomendasi dinas terkait). Proyek perdana kali ini merupakan kegiatan pemberdayaan ekonomi untuk Ibu Rumah Tangga melalui pelatihan keuangan dengan peserta Ibu-Ibu dari Paguyuban Posbindu. Selain pelatihan keuangan, pada proyek perdana kali ini juga diisi dengan manajemen stress yang diisi oleh Maya Sita Darlina. Program #SobatMisqueenNoMore direncanakan untuk terus mengembangkan sayapnya hingga ke pelosok negeri selama tiga tahun kepengurusan ILUNI UI 2019-2022. (*)

Categories
Alumni Center Program

ILUNI: Konser 75 Suara PerjuanganDari UI, Bersama Relawan, Untuk Indonesia

Jakarta, 24 Agustus 2020 – Perayaan kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-75 tahun ini menjadi momentum yang berharga dalam mengapresiasi perjuangan seluruh rakyat Indonesia melawan penyebaran wabah Covid-19. Apresiasi ini khususnya ditujukan kepada para relawan yang berjuang di garda terdepan dalam mengupayakan kesehatan dan keselamatan bangsa. Seperti halnya yang dilakukan Ikatan Alumni Universitas Indonesia (ILUNI UI) berkolaborasi dengan Satuan Tugas Penanganan Covid-19 dalam menggelar sebuah karya seni pertunjukan bertajuk ‘Konser 75 Suara Perjuangan, dari UI, bersama Relawan, untuk Indonesia.

Mengutamakan protokol kesehatan dibawah pengawasan langsung Satgas COVID-19, Konser 75 Suara Perjuangan akan disiarkan secara langsung dari Makara Art Center Universitas Indonesia, pada 28 Agustus 2020. Seluruh relawan dan masyarakat Indonesia dapat menyaksikan konser ini melalui kanal resmi ILUNI UI pada platform Youtube mulai pukul 19.00 – 22.00 WIB. Sederet artis dan musisi terbaik Tanah Air yang akan tampil seperti Andien, Barasuara, Tompi, Aning Katamsi, Nugie, Alika Islamadina, Ikang Fawzi, Kadri Mohammad, Sandhy Sandoro, Harvey Malaiholo, dan ILUNI All Star.

Ketua ILUNI UI Nongki Wisaksono dalam press conference virtual pada Senin (24/08) menjelaskan, Konser virtual ini digelar untuk menginspirasi dan menghibur sekaligus bentuk apresiasi terhadap para Relawan Satuan Tugas Penanganan Covid-19. Selain itu, Konser 75 Suara Perjuangan akan memberikan pengalaman konser yang spektakuler dengan menggunakan berbagai kecanggihan teknologi dalam penyiarannya, sehingga dapat dinikmati hingga lebih dari 10 ribu penonton secara daring. Selain pertunjukan musik yang berkesan, para penonton nantinya juga akan mendapatkan kesempatan unik menyaksikan persiapan konser dari balik panggung dan pengalaman lebih dekat dengan pengisi acara melalui akses virtual ke belakang panggung dan ruang tunggu artis.

“Konser ini hadir sebagai bentuk apresiasi kami kepada para relawan medis dan non-medis yang telah mengorbankan waktu, tenaga, dan bahkan nyawa untuk menjalankan tugas mulia menangani wabah Covid-19. Kami berharap ini menjadi pertunjukan yang menghibur dan inspiratif bagi para relawan dan masyarakat Indonesia agar dapat membangkitkan kembali semangat Indonesia Maju melawan Covid-19,” jelasnya.

Lebih jauh Nongki menjelaskan bahwa konser ini mengusung konsep ‘bercerita’ dimana akan diangkat kisah perjuangan para relawan yang tercermin melalui berbagai narasi inspiratif dalam bentuk story telling. Akan ada narasi inspiratif yang disajikan dalam tiga tema besar, yaitu tema Suara dari Rumah, tema Suara Relawan, dan tema Suara Kemenangan. “Dalam setiap tema akan ada berbagai kisah inspiratif tentang perjuangan menghadapi pandemi ini dan hikmah dibaliknya yang kemudian diharapkan dapat memberikan semangat positif untuk kembali fokus dan berjuang bersama melawan Covid-19,” tambahnya. 

Sementara itu, Ketua Tim Koordinator Relawan Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Andre Rahadian mengapresiasi setinggi-tingginya inisiatif konser virtual ini. Menurutnya, apresiasi dari masyarakat itu penting untuk menjadi penyemangat bagi perjuangan yang tengah dilakukan para relawan saat ini. “Terima kasih kepada seluruh masyarakat Indonesia atas dukungan dan perjuangan yang telah diberikan selama ini, salah satunya dengan tetap berada dirumah saja dan tetap memperhatikan protokol kesehatan seperti menjaga jarak, mengenakan masker, mencuci tangan, dan menjaga pola hidup bersih dan sehat dimanapun berada,” ujar Andre. 

Hal senada hadir dari para pengisi acara yang terlibat. Harvey Malaiholo, sebagai salah satu penyanyi dalam Konser 75 Suara Perjuangan mengungkapkan apresiasinya bagi para relawan dan masyarakat Indonesia. “Saya sangat gembira dapat ikut ambil bagian dalam konser yang inspiratif ini. Kesempatan ini menjadi salah satu bentuk ungkapan terima kasih saya terhadap para relawan yang terus berjuang menjaga keselamatan bangsa. Lalu, untuk semua warga masyarakat yang lebih banyak di rumah saja dan tetap mematuhi protokol kesehatan, kalian juga memiliki andil besar seperti para relawan. Kita semua adalah relawan dan pahlawan dalam melawan wabah ini,” pungkasnya.

Indosat Ooredoo dan BNI sebagai pendukung acara juga menyatakan apresiasinya atas penyelenggaraan Konser 75 Suara Perjuangan. Director & Chief Human Resources Officer Indosat Ooredoo Irsyad Sahroni mengungkapkan bahwa acara ini sejalan dengan kampanye dari Indosat Ooreedo. “Ketika kami melihat kesempatan berpartisipasi dalam Konser 75, kami merasa konser ini sangat sesuai dengan campaign Indosat Ooredoo yaitu teruskan perjuanganmu untuk tetap merdeka,” jelasnya.  Sementara itu, Wakil Pemimpin Divisi Hubungan Kelembagaan BNI Ahmad Salman Somantri juga menyatakan dukungannya kepada Konser 75 Suara Perjuangan. “Dalam memberi apresiasi kepada relawan, kami bekerja sama dengan ILUNI UI dalam Konser 75 Perjuangan. Semoga konser ini memberikan refleksi spirit perjuangan pahlawan kemerdekaan,” imbuh Salman.

Categories
Alumni Peduli Center Program

ILUNI UI: Kondisi Psikososial Masyarakat dan Ancaman Narkoba di tengah Pandemi

Jakarta, 19 Juni 2020 – Ketua Umum Ikatan Alumni Universitas Andre Rahadian mengingatkan masyarakat untuk tetap waspada terhadap ancaman narkoba di tengah pandemi. Hal ini disampaikannya melalui rilis tertulis, Jumat (19/6). “Indonesia tengah menghadapi pandemi, tapi hal itu tidak menghentikan peredaran narkoba di tengah masyarakat,” kata Andre.

Data yang dirilis oleh POLDA Metro Jaya menunjukkan telah terjadi peningkatan kasus narkoba di wilayah DKI Jakarta, hingga 120% pada bulan April 2020. Demikian pula yang terjadi di berbagai daerah lain di Indonesia, bahkan di mancanegara. Sejumlah penelitian menyebutkan bahwa salah satu pemicunya adalah kondisi psikologis yang diakibatkan oleh timbulnya berbagai persoalan terkait pandemi. Misalnya permasalahan ekonomi, keluarga, PSBB, bekerja dari rumah, bahkan pembelajaran jarak jauh. “Kondisi memprihatinkan inilah yang betul-betul mendorong ILUNI UI untuk melakukan rangkaian webinar dalam upaya mengedukasi masyarakat, khususnya di bidang pencegahan,” jelas Andre.

Koordinator ILUNI UI Peduli, merangkap Koordinator ILUNI UI Tanggap COVID-19, yang juga menjadi narasumber di serial webinar anti narkoba, Dr. Endang Mariani, M.Psi., menyebutkan bahwa sebenarnya rasa takut dan cemas merupakan reaksi normal dalam situasi abnormal, seperti ketika seseorang berada dalam kondisi bencana. Namun, kecemasan dan stres berlebihan yang tidak ditangani dengan baik, dapat menjadi faktor pemicu seseorang untuk tergoda memilih narkoba sebagai jalan pintas untuk keluar dari persoalan yang dihadapi. “Untuk itu, kepedulian dari orang-orang terdekat untuk selalu memperhatikan lingkungan sekitar, sangat diperlukan. Demikian pula dukungan psikososial dapat diberikan sesegera mungkin jika ada di antara anggota keluarga ataupun teman-teman kita terlihat mulai menunjukkan tanda-tanda mengalami kondisi stress atau depresi,” jelasnya.

Menurut Endang, ada berbagai faktor yang melatarbelakangi seseorang terjerumus pada penyalahgunaan narkoba di masa pandemi. Antara lain, karena adanya gangguan hubungan antara orang tua dan anak, atau antar anggota keluarga lain; rasa keterasingan akibat isolasi; keterlibatan dengan teman-teman penyalahguna narkoba, serta pengalaman positif dengan obat-obatan. Pengaruh kelompok referens ini tetap berlangsung, meskipun secara virtual melalui media sosial, misalnya. “Selain kasus-kasus baru, kasus-kasus relaps juga tercatat mengalami peningkatan di masa pandemi ini.

Di masa transisi menuju “new normal”, kemungkinan munculnya stressor baru bukan tidak mungkin terjadi. Oleh karena itu lagi-lagi dukungan keluarga dan orang-orang terdekat sangat dibutuhkan. Ada banyak hal yang bisa kita lakukan agar kita menjadikan narkoba sebagai solusi. Apalagi jika kita tahu dampak penyalahgunaan narkoba terhadap sistem imunitas dan kesehatan itu luar biasa,” lanjut penggiat anti narkoba ini.

Sementara itu, Deputi Pemberantasan Badan Narkotika Nasional (BNN) Irjen. Pol. Arman Depari memprediksikan ada 3.609 juta pengguna narkoba di Indonesia pada tahun 2020. “Jumlah tersebut diperkirakan akan naik sekitar 100 ribu jiwa dari tahun sebelumnya,” tutur jenderal yang terkenal “garang” jika harus berurusan dengan para bandar dan pengedar.

Arman pun menegaskan komitmen BNN untuk terus memberantas kasus penyalahgunaan narkoba, melalui langkah-langkah pencegahan, pemberantasan dan rehabilitasi. “Saat ini para bandar dan pengedar semakin lihai melakukan aksinya. Kurir pun bisa menggunakan berbagai macam jalur. Maraknya peredaran narkoba, tentunya berkaitan dengan tingginya permintaan. Oleh karena itu, peranserta masyarakat menjadi yang utama dalam memutus mata rantai penyebaran narkoba,” jelas Arman. Beberapa program yang dilakukan BNN, seperti Desa Bersinar (Desa Bersih dari Narkoba, peningkatan ketahanan keluarga, termasuk dari sisi ekonomi keluarga; serta penyebaran informasi melalui Rumah Edukasi Anti Narkoba, diharapkan dapat menekan kasus penyalahgunaan narkoba secara signifikan. “BNN melihat ILUNI UI telah banyak melakukan kegiatan edukasi anti narkoba ke masyarakat, dan bahkan menjadi relawan anti narkoba untuk terjun melindungi masyarakat,” tuturnya.

Dampak kerugian luar biasa dari penyalahgunaan narkoba, memanggil kepedulian ILUNI UI untuk ikut serta memberikan jalan keluar. “Di masa pandemi, maupun di luar masa pandemi, ILUNI UI selalu menjalan peran dan fungsinya sebagai mitra strategis bagi pemerintah serta masyarakat Indonesia, termasuk dalam menangani kasus narkoba yang memiliki dampak struktural terhadap generasi muda penerus bangsa,” tegas Andre.

Lebih lanjut Andre menyebutkan di tengah kepedulian terhadap penanggulanan COVID19, ILUNI UI tetap menjalankan komitmennya dalam memperingati Hari Anti Narkotika Internasional 2020 dengan berbagai kegiatan. Serangkaian webinar diselenggarakan dengan tema besar “Narkoba? Bukan Solusi!” Sejumlah narasumber yang kompeten di bidangnya dilibatkan, baik dari kalangan medis, psikologi, praktisi maupun figur publik yang diharapkan akan dapat menjadi influencer di masyarakat. Selain itu, ILUNI UI juga mengajak lintas generasi melawan narkoba dengan menyelenggarakan lomba video melalui Instagram dan TikTok dengan total hadiah 6 juta rupiah.

“ILUNI UI sejak tahun 2017 telah berkolaborasi dengan BNN dalam menjalankan program ILUNI UI Anti Narkoba,” pungkas Andre. Beberapa rekam jejak kegiatan ILUNI UI Anti Narkoba untuk berbagai kalangan, di antaranya adalah dengan mengadakan talkshow, workshop, literasi anti narkoba, pemberdayaan masyarakat dan lain sebagainya. (*)

Categories
Berita Utama

Alumni UI Beri Rekomendasi Komunikasi Protokol Kesehatan Efektif

Jakarta, 19 September 2020 – Alumni Universitas Indonesia (UI) dari berbagai latar belakang memberikan rekomendasi terkait komunikasi protokol kesehatan yang efektif. Rekomendasi tersebut disampaikan melalui sesi Focus Group Discussion (FGD) diskusi virtual yang diselenggarakan Ikatan Alumni UI (ILUNI UI), Sabtu (19/9).

Dalam sambutannya, Ketua Umum ILUNI UI Andre Rahadian menyatakan komitmen ILUNI UI melalui Community Development Center untuk memberikan kontribusi di masa pandemi. Salah satu kontribusi tersebut melalui edukasi kepada masyarakat akan pentingnya penerapan protokol kesehatan. “Kita melihat kesadaran dan perilaku masyarakat akan sangat berperan dan menentukan apakah kita sebagai bangsa bisa memutus penyebaran Covid-19 atau tidak,” ujar Andre.

Kata dia, perubahan perilaku masyarakat memang sulit, apalagi berbagai kebiasaan pada protokol kesehatan tidak dikenal sebelumnya. “Untuk itu ILUNI UI ingin menginformasikan dan memberi masukan kepada pemerintah bagaimana seharusnya kita mensosialisasikan hal ini sehingga masyarakat tidak merasa terpaksa,” imbuhnya.

Rekomendasi alumni UI dirangkum ke dalam empat topik utama yakni terkait komunikasi publik yang efektif, adaptasi perilaku sosial, perilaku pencegahan dan penularan Covid-19,  serta adaptasi perilaku adaptif pada anak. Berdasarkan rekomendasi tersebut, pemerintah diminta menyajikan komunikasi berbasis fakta, bukti, dan sesuai ilmiah serta transparan dan dapat diakses oleh komunitas difabel. Selain itu, perlu menggunakan key influencer yang intensif, tidak ambigu, dan masif kepada masyarakat. 

Pada kesempatan tersebut, Sosiolog UI Imam Prasodjo juga menyampaikan imbauan agar pemerintah melakukan pendekatan kebijakan melalui komunitas. Dia mendorong tumbuhnya gerakan kolektif untuk menjadi penegak protokol kesehatan. Gerakan tersebut harus muncul dari lingkup komunitas. ”Selama ini sosialisasinya makro, sementara kita berhadapan dengan pelanggaran-pelanggaran di tingkat komunitas,” tuturnya.

Dia mengusulkan pemerintah harus masuk ke dalam level komunitas. ”Agar sosialisasi berjalan lebih efektif, jenis sosialisasi itu tidak dalam societal yang sangat makro tapi masuk ke community level,” katanya. Dia menjabarkan, sosialisasi tersebut dapat dilakukan misalnya melalui komunitas civil society di pasar, masjid, gereja, komunitas lembaga bisnis, dan komunitas lembaga pemerintah.

Imam juga menyampaikan, pemerintah harus membuat protokol kesehatan yang lebih detail. Selain itu, dia mengingatkan pentingnya kehadiran pasukan-pasukan komunitas dan panitia-panitia yang jadi penegak peraturan. ”Kalau itu dibangun secara masif dengan protokol kesehatan yang costumized, ada harapan perubahan perilaku jadi lebih baik karena disiplin sudah terbangun dari bawah.”

Senada dengan Imam, Epidemilog UI Pandu Riono juga menekankan pentingnya peran publik dalam menghadapi pandemi. Katanya, jika menerapkan pembatasan sosial maka harus mengomunikasikan kepada publik dengan baik. ”Dalam hal ini,  komunikasi jadi tulang punggung dan komunitas jadi front line di publik. Tapi, pemerintah justru memberikan regulasi-regulasi yang tidak dipahami masyarakat,” tegasnya. 

Dia juga menyayangkan, pemerintah tidak mengajak publik dalam komunikasi protokol kesehatan 3M yakni mencuci tangan, menggunakan masker, dan menjaga jarak. Kata Pandu, Indonesia berhadapan dengan risiko yang harus dikomunikasikan.  Namun, dia melihat risk communication atau komunikasi risiko tersebut tidak terjadi. ”Yang terjadi adalah informasi serabutan, tidak jelas, tidak terstruktur, dan pesan-pesannya tidak dikemas dengan baik,” tukasnya.

Oleh karena itu, Pandu menekankan agar pemerintah memberikan pesan yang terstruktur dan dikemas dengan baik. ”Pesan itu supaya standar diucapkan, jangan ambigu. Jadi kita mendorong penduduk untuk mengadopsi norma-norma perilaku ini. semua harus terukur, terencana, dan jelas baru kita bisa melakukannya.” pungkasnya. (*)


Informasi lebih lanjut dapat menghubungi : Devi +62 811-98-43210