Prof. Selo Sumardjan : Makna Keteladanan Dalam Pengabdian

Bapak Sosiologi Indonesia ini dibesarkan di lingkungan abdi dalem Kasultanan Yogyakarta Hadiningrat. Kakeknya, Kanjeng Raden Tumenggung Padmonegoro, adalah pejabat tinggi di kantor Kasultanan Yogyakarta. Berkat jasa sang kakek, Soemardjan mendapat pendidikan Belanda. Nama Selo dia peroleh setelah menjadi camat di Kabupaten Kulonprogo. Ini memang cara khusus Sultan Yogyakarta membedakan nama pejabat sesuai daerahnya masing-masing. Saat…

Prof. Miriam Budiardjo: Ungkapkan Kebenaran Walaupun Pahit

Pakar politik dan penulis buku Pengantar Ilmu Politik, yang menjadi buku wajib mahasiswa politik, itu dikenal sebagai seorang dosen yang cantik berkacamata, berpakaian rapi, bersuara lunak tetapi tegas dan tetap bersahaja. Sampai menjelang akhir hayatnya dia masih sibuk dengan dunia akademis. Terakhir sedang mengerjakan revisi buku Dasar-dasar Ilmu Politik yang telah 20 kali lebih dicetak…

Dr. Radjiman: Dokter Rakyat dan Tokoh Pergerakan

Pengabdian Mas Radjiman saat menjadi dokter pemerintah, memungkinkan untuk bersentuhan langsung dengan rakyat kecil. Kesamaan nasib semasa kecil yang hidup di keluarga biasa membuatnya mampu menangani penderitaan para pasiennya. Melalui pendekatan budaya, ia mampu mempraktekan ilmu pengobatan moderen kepada rakyat kecil yang masih sulit menerimanya ketika itu. Penderitaan hidup dan keterbelakangan masyarakat pribumi itu menumbuhkan…

Koentjaraningrat: Bapak Antropologi Indonesia

Alumnus Fakultas Sastra/ FIB UI (1952) yang akrab dipanggil Pak Koen ini adalah seorang ilmuwan yang sangat berjasa meletakkan dasar-dasar perkembangan ilmu antropologi di Indonesia. Hampir sepanjang hidupnya, Koentjaraningrat berjuang untuk pengembangan ilmu antropologi, pendidikan antropologi, dan apsek-aspek kehidupan yang berkaitan dengan kebudayaan dan kesuku-bangsaan di Indonesia. Ia merintis berdirinya sebelas jurusan antropologi di berbagai…

SK Trimurti: Militansi Wartawati Pejuang

Bagi alumnus FEUI (1960) ini, perjuangan tidak mengenal kata akhir. Ia adalah wartawati pejuang yang tidak mengenal rasa takut, mengorbankan apapun yang ia miliki tanpa ada rasa pamrih. “Tri, tulislah karangan, nanti kami muat dalam majalah Fikiran Ra’jat,” kata Bung Karno, yang menggugah semangat Trimurti untuk pertama kali menulis, dan sejak itulah ia berjuang sebagai…