Pakar politik dan penulis buku Pengantar Ilmu Politik, yang menjadi buku wajib mahasiswa politik, itu dikenal sebagai seorang dosen yang cantik berkacamata, berpakaian rapi, bersuara lunak tetapi tegas dan tetap bersahaja.

Sampai menjelang akhir hayatnya dia masih sibuk dengan dunia akademis. Terakhir sedang mengerjakan revisi buku Dasar-dasar Ilmu Politik yang telah 20 kali lebih dicetak ulang. Menurut putri tunggalnya, Gitayana, sebenarnya revisi sudah hampir selesai. Selain itu, menurut Gitayana, Miriam juga sedang menyelesaikan kata pengantar buku klasik lainnya, Kuasa dan Wibawa, ketika akhirnya harus dirawat di RS Medistra dan kemudian meinggal dunia pada 8 Januari 2007.

Pada masa pergerakan Miriam juga ikut aktif dalam perjuangan kemerdekaan dan dekat dengan kelompok ”pemuda Sjahrir” yang belakangan mendirikan Partai Sosialis Indonesia. Setelah Indonesia merdeka, ia antara lain menjadi Sekretariat Delegasi Indonesia dalam Perundingan Renville (1947-1948).

Sebentar dia berkarier sebagai diplomat, bertugas di New Delhi, India, dan Washington DC, Amerika Serikat (AS). Dia perempuan diplomat pertama di Indonesia. Kemudian, alumni program S-2 di Georgetown University, Washington DC, AS, itu memilih berkecimpung di dunia pendidikan dan keilmuan. Dia sempat mengikuti program S-3 di Harvard University, Cambridge, AS, namun tak sampaih diselesaikannya. Namun pada tahun 1990-an, dia dianugerahi gelar doctor honoris causa oleh almamaternya, FISIP UI.

Selain menjadi dosen, Miriam juga dikenal sebagai aktivis perempuan yang giat memperjuangkan nasib perempuan pada jamannya. Kegiatannya sebagai aktivisnya itu pula yang kemudian membuatnya terpilih sebagai Wakil Ketua Komnas HAM pada tahun 1994.

Miriam juga dikenal teguh dalam pendirian dan konsisten dalam prinsip. Gitayana mengungkapkan bagaimana sang ibu berusaha menanamkan keteguhan dan konsistensi itu. “Ibu mengajarkan kami seperti itu. Ungkapkan kebenaran itu walaupun terasa pahit,” tuturnya.

Salah satu karya besarnya sebagai pakar dan akademisi adalah buku klasik Pengantar Ilmu Politik dan Dasar-Dasar Ilmu Politik yang menjadi buku wajib bagi mahasiswa FISIP di Indonesia dan telah dicetak ulang lebih dari 20 kali. Karya penting Miriam lainnya adalah buku berjudul The Provisional Parliament in Indonesia yang diterbitkan tahun 1956.

Bersama rekan-rekannya, antara lain Sujono Hadinoto, Selo Soemardjan, Sulaiman Sumardi, Ibu TO Ihromi, dan G Pringgodigdo, Miriam mendirikan Fakultas Ilmu-ilmu Sosial (FIS) Universitas Indonesia. Dia menjadi dekan dua periode tahun 1974-1979 menggantikan Selo Soemardjan.

Dia telah menjadi guru bagi banyak pakar politik di Indonesia, di antaranya Juwono Sudarsono, Arbi Sanit, Maswadi Rauf, dan Isbodroini Suyanto.

Sebagai pengamat ilmu politik, Miriam sering mengoreksi kekuasaan dengan cara yang sopan namun tetap kritis. Salah satu yang bersejarah adalah ketika bersama Rektor UI Prof Dr dr Asman Boedisantoso dan rekan-rekan Rektorat UI menemui Presiden Soeharto di Jalan Cendana tanggal 16 Mei 1998. Ketika itu dalam situasi politik telah panas, menyampaikan hasil Simposium Kepedulian UI terhadap Tatanan Masa Depan Indonesia. Berhubung Miriam sudah sangat senior, dialah yang membacakan hasil simposium itu di hadapan Pak Harto. Intinya, mereka menyarankan agar Pak Harto dengan sukarela lengser ing keprabon.

Butir pertama yang dibacakan Miriam berbunyi, ”Menyambut baik kesediaan Bapak (Soeharto) untuk mengundurkan diri dari jabatan presiden…”. Namun, kalimat tambahan ”mendesak agar dilaksanakan dalam waktu sesingkat-singkatnya” batal dia bacakan.

Tak lama setelah itu, Miriam mundur dari berbagai kegiatan politik, termasuk dari jabatan Wakil Ketua Komnas HAM yang dijabatnya sejak tahun 1994. Memilih melanjutkan pengabdian dari ruangan kerja berjendela geser yang terbuka menghadap ruang makan di rumahnya di Jalan Proklamasi No 37, Jakarta Pusat.

Keberhasilan Miriam dalam karirnya tak terlepas dari dorongan orang tuanya, Saleh Mangundiningrat dan Isnadikin Citrokusumo. Bersama saudara-saudaranya didorong untuk mengejar pendidikan setinggi-tingginya. Mereka pun berhasil menjadi putera-puteri bangsa yang berguna. Kakaknya, Soedjatmoko, merupakan salah seorang pemikir Indonesia modern. Adiknya, Nugroho Wisnumurti, pernah menjadi Duta Besar RI untuk PBB dan kakak perempuannya, Siti Wahyunah (Poppy), menikah dengan Sutan Sjahrir.

Miriam menerima Bintang Mahaputra Utama tahun 1998 dan Doktor Kehormatan Ilmu Politik dari UI (1997) dan menerima Bintang Jasa Utama Pengabdian kepada Republik Indonesia selama Masa Perjuangan Kemerdekaan (1995).

Untuk menghormati jasa-jasa Ibu Mir, Universitas Indonesia menetapkan nama Miriam Budiardjo sebagai salah satu nama jalan di kampus UI Depok. Selain itu, namanya juga diabadikan sebagai Miriam Budiardjo Research Center di kampus FISIP UI Depok.

Alumnus Fakultas Sastra/ FIB UI (1952) yang akrab dipanggil Pak Koen ini adalah seorang ilmuwan yang sangat berjasa meletakkan dasar-dasar perkembangan ilmu antropologi di Indonesia.

Hampir sepanjang hidupnya, Koentjaraningrat berjuang untuk pengembangan ilmu antropologi, pendidikan antropologi, dan apsek-aspek kehidupan yang berkaitan dengan kebudayaan dan kesuku-bangsaan di Indonesia. Ia merintis berdirinya sebelas jurusan antropologi di berbagai universitas dan beberapa karya tulisnya telah menjadi rujukan bagi dosen dan mahasiswa di Indonesia. Dan atas jasa-jasanya itu, ia mendapat gelar kehormatan sebagai Bapak Antropologi Indonesia.

Pria kelahiran Yogyakarta, 15 Juni 1923, ini dibesarkan di lingkungan keraton. Ayahnya, RM Emawan Brotokoesoemo, adalah seorang pamong praja di lingkungan Pakualaman dan ibunya, RA Pratisi Tirtotenojo, sering diundang sebagai penerjemah bahasa Belanda oleh keluarga Sri Paku Alam. Meskipun terlahir sebagai anak tunggal, Koentjaraningrat mendapat didikan ala Belanda dari sang ibu untuk menjadi pribadi yang disiplin dan mandiri.

Ketertarikan Koentjaraningrat dibidang ilmu antropologi berawal ketika ia menjadi asisten Prof GJ Held, guru besar antroplogi UI, yang mengadakan penelitian lapangan di Sumbawa. Ia kemudian melanjutkan pendidikannya di Yale University Amerika Serikat dan meraih gelar MA dibidang antropologi tahun 1956. Selanjutnya, tahun 1958 ia meraih gelar doktor antroplogi dari Universitas Indonesia.

Pengabdiannya dibidang antroplogi dimulai ketika ia ditugaskan untuk mengembangkan pendidikan dan penelitian antropologi. Ia pun menyiapkan dan menyediakan bahan untuk pengajaran. Dalam rangka pemenuhan tugas-tugas itu, ia tidak hanya produktif menulis buku-buku acuan pendidikan antropologi, melainkan dia juga menulis buku-buku dan artikel ilmiah lainnya berkenaan dengan kebudayaan, suku bangsa, dan pembangunan nasional di Indonesia.

Beberapa karya tulisnya telah menjadi rujukan bagi dosen dan mahasiswa di Indonesia. Ia banyak menulis mengenai perkembangan antropologi Indonesia. Sejak tahun 1957 hingga 1999, ia telah menghasilkan puluhan buku serta ratusan artikel.

Melalui tulisannya, ia mengajarkan pentingnya mengenal masyarakat dan budaya bangsa sendiri. Buah-buah pikirannya yang terangkum dalam buku kerap dijadikan acuan penelitian mengenai kondisi sosial, budaya, dan masyarakat Indonesia, baik oleh para ilmuwan Indonesia maupun asing.

Salah satu bukunya yang menjadi pusat pembelajaran para mahasiswanya adalah “Koentjaraningrat dan Antropologi Indonesia”, yang diterbitkan pada tahun 1963. Dalam buku itu, diceritakan kegiatan Prof Dr Koentjaraningrat dalam menimba ilmu. Juga di dalamnya, dia menjadi tokoh pusat dalam perkembangan antropologi.

Selain itu, bukunya Pengantar Antropologi yang diterbitkan pada tahun 1996 telah menjadi buku pegangan para mahasiswa di berbagai universitas dan berbagai jurusan yang ada di Indonesia.

Buku lainnya yang pernah diterbitkannya adalah hasil penelitian lapangan ke berbagai wilayah di Indonesia seperti Minangkabau, daerah Batak hingga pelosok Irian Jaya. Buku itu berjudul Keseragaman Aneka Warna Masyarakat Irian Barat (1970), Manusia dan Kebudayaan di Indonesia (1971), Petani Buah-buahan di Selatan Jakarta (1973), Masyarakat Desa di Indoensia (1984), Kebudayaan Jawa (1984), Masyarakat Terasing di Indonesia (1993), dan sebagainya.

Kepribadiannya yang khas, meninggalkan kesan tersendiri dalam ingatan para mahasiswanya. Kesan dan pandangan para mahasiswa, kerabat, sahabat dan koleganya, sepertinya dapat mengungkapkan jati diri seorang tokoh dalam berbagai aspek kehidupannya di kelas, di rumah, dan di dalam kehidupan sehari-hari.

Karier yang pernah dijabatnya yakni menjadi Guru Besar Antropologi pada Universitas Indonesia. Kemudian menjadi Guru Besar Luar Biasa pada Universitas Gadjah Mada, dan juga Guru Besar di Akademi Hukum Militer di Perguruan Tinggi Ilmu KeKapolri (1968-1971). Selain itu, Begawan Antropologi Indonesia ini juga pernah diundang sebagai guru besar tamu di Universitas Utrecht, Belanda, Universitas Columbia, Universitas Illinois, Universitas Ohio, Universitas Wisconsin, Universitas Malaya, Ecole des Hautes, Etudes en Sciences Sociales di Paris dan Center for South East dan Asian Studies di Kyoto.

Berbagai penghargaan telah dianugerahkan padanya atas pengabdiannya dalam pengembangan ilmu antropologi. Di antaranya, penghargaan ilmiah gelar doctor honoris causa dari Universitas Utrecht, 1976 dan Fukuoka Asian Cultural Price pada tahun 1995. Pak Koen juga mendapat penghargaan Satyalencana Dwidja Sistha dari Menhankam RI (1968 dan 1981).

Pada tanggal 23 Maret 1999, antropolog pertama Indonesia ini meninggal dunia di usia 75 tahun karena sakit. Dari pernikahannya dengan Kustiani, yang dikenalnya sejak kuliah di UI, Koentjaraningrat dikaruniai tiga anak: Sita Damayanti, Rina Tamara, dan Inu Dewanto.

Keluarga besar ILUNI UI turut berbela sungkawa atas kepergian Shofiyyah Taqiyyah (FTUI 2012).

Semoga keluarga, kerabat dan teman – teman almarhumah, diberikan kesabaran dan ketabahan. Serta amal semasa hidup diterima di sisi-Nya. Amin amin yaRabbal alamiin.

“…..maka jika datang waktu kematian mereka, tidak bisa mereka tunda dan mendahulukannya sedetik pun”
[An – Nahl: 61]


ILUNI UI 2016 – 2019
“Rumah Kita”

ILUNI UI turut hadir dalam acara halah bihalal HIMPUNI (Himpunan Organisasi Alumni PTN Indonesia) pada (21/7) yang bertempat di Gedung Dhanapala, Kementrian Keuangan. Dalam acara tersebut turut dihadirkan alumni baru yang memiliki prestasi dari masing – masing perwakilan PTN.

Universitas Indonesia diwakili oleh Sherley Mega lulusan FH 2013 dengan prestasi sebagai juara 1 Mapres FH 2016, satu dari dua perwakilan Indonesia pada G20 Youth Summit di Berlin, Jerman. Pyan Putro lulusan FE 2012 yang mewakili Universitas Indonesia, pada Konferensi Internasional Pelajar Indonesia 2014 Canberra, Australia, dan Juara satu International Microeconomics Competition, Universitas Padjajaran, Bandung. Dalam kesempatan yang ada turut hadir Menteri Perhubungan, Budi Karya selaku keynote speaker dari acara Halal Bihalal HIMPUNI 2017. Acara ini juga menghadirkan 30 perwakilan dari masing – masing ikatan alumni PTN di Indonesia.

ILUNI UI berharap kedepannya acara seperti ini mampu menjadi satu dari sekian banyak agenda yang mampu mempererat persatuan para alumni PTN seluruh Indonesia. Serta mampu menghasilkan dan memperkenalkan para alumni baru terbaik dari masing – masing PTN.

ILUNI UI 2016 – 2019

“Rumah Kita”

FB: alumni.ui

IG: iluni.ui

Web: iluni.ui.ac.id

Kontak: kontak-iluni@ui.ac.id / 0811-959595-3

 

Page 1 of 212